Monday, June 06, 2011

Dilema

Awalnya adalah kejenuhan, manakala mengikuti perkembangan yang terjadi di negeri ini. Bagi diriku, perkembangan yang paling menarik tentunya adalah perkembangan dunia perpolitikan. Tapi, seiring berjalannya waktu, paparan tanpa kejelasan dan dinamika semu dari perilaku artifisial pemimpin negeri ini (seluruh pemimpin yang minta dirinya disebut pemimpin) menjebak otakku dalam kejenuhan. Semua berita tetang mereka yang menyebut dirinya pemimpin hanya berkutat pada masalah yang ga pernah menyentuh akar persoalan. Semua sekedar lip service dengan tujuan menggugah minat orang untuk bersimpati padanya. Tidak pemimpin negeri, tidak pemimpin partai, pun tidak pemimpin golongan tertentu. Semua terjebak dalam skema kemasan model pengiklanan di media. Semuanya menjadi sampah, sampah, dan sampah.

Dinamika bernegara mensyarakatkan keterlibatan partai secara mutlak dalam proes perubahan konstelasi kekuasaan dalam negara. Tidak ada ruang kosong yang bisa dimasuki oleh individu tanpa partai. Sementara, partai yang ada saat ini telah berubah wajah, sekedar menjadi alat bagi individu bermental petualang untuk mengais keuntungan. Tidak ada lagi partai yang membawa ideologi untuk memperjuangkan kepentingan negara dalam rentang waktu lama. Tidak ada partai yang sanggup menawarkan program implementatif bagi kepentingan bangsa secara gradual. Yang ada hanya make up penuh cemong yang terpampang hanya saat pemilu. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada satupun partai yang layak diberi mandat untuk memegang kendali sebuah pemerintahan. Lantas mau dibawa kemana negeri ini, bila semua partai tidak layak mendapat mandat dari masyarakat? Entahlah....

No comments: