
Cinta yang benar-benar tanpa syarat adalah cinta yang lahir dari dalam relung hati paling dalam. Dan cinta yang demikian ternyata tidak semudah yang gue bayangkan bakal hadir. Dulu, ketika jatuh cinta sama perempuan yang telah mencuri sepenggal rasa dalam jiwa, kita seolah-olah sudah benar-benar merasakan cinta sejati. Seolah sudah mendapatkan karunia dengan lahirnya perasaan yang muncul dari relung hati terdalam. Bahkan dengan mempelajari pemikiran Eric Fromm dalam bukunya Seni Mencinta serta Memiliki dan Menjadi, tidak juga membuat gue tersadar, bahwa cinta yang demikian belumlah masuk kategori cinta tanpa syarat. Karena, gue tetap membutuhkan pengakuan dari pihak lain agar cinta tersebut bisa tumbuh dan berkembang. Cinta yang demikian bukanlah variable independen. Bahkan, cinta antara suami istri, belum lah masuk dalam kategori cinta yang independen, karena masih ada prasyarat.
Nah, seiring berjalannya waktu, gue mendapat karunia untuk merasai cinta yang tanpa syarat tersebut. Cinta yang hadir sedemikian kuat dan tahan segala cuaca. Cinta yang hadir tanpa mensyaratkan apapun, bahkan tanpa prasyarat pengakuan. Cinta yang hadir dan mengalir benar-benar tanpa tepian. Cinta yang tanpa seolah-olah. Seorang anak, yang kemudian gue kasih nama, NISMARA, telah memberi pelajaran dan pengalaman bagaimana cara mencinta dan merasai bagaimana rasanya memiliki dan menjadi. Mungkin inilah mukjijat yang lahir secara naluriah dari makluk sosial bernama manusia. Untuk mendapatkan cinta yang benar-benar sejati, memang nalurilah yang harus menuntunnya, bukan keinginan yang terbangun secara sadar. Nismara telah mampu membangkitkan naluri gue untuk mencintai seseorang dengan keluasan tanpa batas. Ah, anak memang telah merubah banyak hal. Aku bisa melakukan apapun demi untuk kebahagiaanya, bisa melupakan apapun saat berada di dekatnya, dan bisa merasai segala warna bahagia saat melihatnya tertawa pun saat memeluk dan menciumnya. I love u my little princes!!!!
Nah, seiring berjalannya waktu, gue mendapat karunia untuk merasai cinta yang tanpa syarat tersebut. Cinta yang hadir sedemikian kuat dan tahan segala cuaca. Cinta yang hadir tanpa mensyaratkan apapun, bahkan tanpa prasyarat pengakuan. Cinta yang hadir dan mengalir benar-benar tanpa tepian. Cinta yang tanpa seolah-olah. Seorang anak, yang kemudian gue kasih nama, NISMARA, telah memberi pelajaran dan pengalaman bagaimana cara mencinta dan merasai bagaimana rasanya memiliki dan menjadi. Mungkin inilah mukjijat yang lahir secara naluriah dari makluk sosial bernama manusia. Untuk mendapatkan cinta yang benar-benar sejati, memang nalurilah yang harus menuntunnya, bukan keinginan yang terbangun secara sadar. Nismara telah mampu membangkitkan naluri gue untuk mencintai seseorang dengan keluasan tanpa batas. Ah, anak memang telah merubah banyak hal. Aku bisa melakukan apapun demi untuk kebahagiaanya, bisa melupakan apapun saat berada di dekatnya, dan bisa merasai segala warna bahagia saat melihatnya tertawa pun saat memeluk dan menciumnya. I love u my little princes!!!!
No comments:
Post a Comment