Saban kali ketemu kawan lama yang pernah sama-sama besar di jalan, obrolan yang berkembang senantiasa mengarah apa masalah politik. Dan, secara spesifik kita, sadar, pun tidak sadar membuat penilaian terhadap sikap kawan-kawan kita yang banyak bergabung dengan partai politik.
Ada beberapa kawan dekat kami yang dulu bareng membangun mimpi tentang Indonesia yang lebih baik, sekarang telah dengan mantap masuk ke dunia politik. Pilihan logis menurutnya dan menurut beberapa orang. Karena, konon katanya, bila ingin terlibat langsung dalam mewarnai tatanan negeri ini harus turut serta dalam pengambilan kebijakan politis. Satu-satunya cara terlibat dalam pengambilan kebijakan politis adalah bergabung dengan salah satu partai politik kontestan pemilu dan punya peluang menang. Saat itu, semua bicara tentang banyak hal yang ideal.
Tapi, yang ideal seringkali memang sangat indah ketika masih dalam tataran ide. Saat kemudian semua bergerak dalam ranah yang lebih nyata, rupanya memberi kaki bagi ide tidak semudah yang dibayangkan. Banyak kemudian kawan-kawan yang justru terjebak dalam dinamika parpol yang jauh dari kesan peduli terhadap nasib bangsanya. Bahkan kemudian parpol, termasuk mereka yang di dalamnya tentunya, menjadi semacam mesin pencari keuntungan semata.
Sebenarnya, sedari awal, secara pribadi aku tidak pernah sepakat dengan ide buru-buru masuk parpol. Karena, kami semua dulunya adalah gerombolan anak-anak dengan semangat yang sama turun ke jalan pun turun ke masyarakat dengan tujuan untuk meneriakan perbaikan keadaan. Saat Suharto terguling, kami melihat bahwa secara politis kekuasaan orang-orang sekitar suharto masih kuat. Dan, kami semua ternyata barus tersadar, tidak memiliki pijakan apapun secara politik. Semestinya, sebagai aktivis mahasiwa yang ingij terlibat secara langsung dalam hingar bingar politik, kami terlebih dahulu harus berkumpul bersama membangun platform perjuangan bersama dengan ideolgi besarnya seperti apa. Yang terjadi waktu itu, diantara kami syahwat politiknya terlalu kuat. Sehingga lupa bahwa kita harusnya membuat platform bersama sebelum ramai-ramai bertebaran masuk ke beberapa partai politik. Bisa dibayangkan kan bagiamana anak-anak muda dengan semangatnya yang masih menggelora, dan masih miskin ideologi, tiba-tiba pada memiliki kesempatan duduk di pucuk pimpinan dan memegang harta yang berlimbah. Ahay....lupalah semuanya cita-cita bernegara yang benar tersebut.
Tidak banyak pihak yang lantas mau memilih untuk bekerja di bidang pengorganisasian. Padahal kerja-kerja pengorganisasian sebenarnya jauh lebih penting dibanding membangun basis di pucuk kekuasaan. Memberi pemahaman dan pendidikan kepada masyarakat akan berdampak lebih sistemik terhadap kehidupan berpolitik. Kerja-kerja pengorganisasianlah yang akan bisa melahirkan para pemilih yang cerdas ditingkat masyarakat. Tanpa kerja pengorganisasian, seperti saat ini, masyarakat yang merupakan pemilik mandat terjebak dalam skema permainan kata-kata dan publisitas, sehingga mandatnya jatuh bukan kepada mereka yang memiliki visi yang jelas, melainkan kepada yang pintar memoles diri dan pegang uang banyak. Parahnya, banyak politisi muda kawan kita malah terbawa dalam dinamika politik yang korup dan miskin visi.
Dan, dari yang sedikit yg mau bekerja di bidang pengorganisasian harus berjuang sendirian dengan segala keterbatasan. Mereka yang sudah berani mengambil resiko pilihan untuk menjadi bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa tidak juga mendapat apresiasi dari kawan-kawan yang sudah bergelimang banyak kesempatan. Kendatipun, seandainya dikasih uluran tangan yang beruba anggaran pasti para pekerja dibidang pengorganisasian tersebut bakal menolak. Tapi, kepedulian secara politis yang berujung pada dukungan program pengorganisasian jauh lebih berguna dan secara langsung maupun tidak langsung pasti akan diterima.
Tapi, karena tidak terbangunya platform bersama, maka tidak ada upaya sistemik untuk menbangun kesadaran politik agar berkembang lebih baik. Yang berada di pucuk kekuasaan terjebak dalam dinamika perebutan pengaruh dan kekuasaan semata, yang bekerja dibawah terjebak dalam kesulitannnya sendiri. Akhirnya, kata perubahan sudah menjebak dirinya dalam kesemrawutan. Kesemrawutan yang melahirkan apatisme.
Ada beberapa kawan dekat kami yang dulu bareng membangun mimpi tentang Indonesia yang lebih baik, sekarang telah dengan mantap masuk ke dunia politik. Pilihan logis menurutnya dan menurut beberapa orang. Karena, konon katanya, bila ingin terlibat langsung dalam mewarnai tatanan negeri ini harus turut serta dalam pengambilan kebijakan politis. Satu-satunya cara terlibat dalam pengambilan kebijakan politis adalah bergabung dengan salah satu partai politik kontestan pemilu dan punya peluang menang. Saat itu, semua bicara tentang banyak hal yang ideal.
Tapi, yang ideal seringkali memang sangat indah ketika masih dalam tataran ide. Saat kemudian semua bergerak dalam ranah yang lebih nyata, rupanya memberi kaki bagi ide tidak semudah yang dibayangkan. Banyak kemudian kawan-kawan yang justru terjebak dalam dinamika parpol yang jauh dari kesan peduli terhadap nasib bangsanya. Bahkan kemudian parpol, termasuk mereka yang di dalamnya tentunya, menjadi semacam mesin pencari keuntungan semata.
Sebenarnya, sedari awal, secara pribadi aku tidak pernah sepakat dengan ide buru-buru masuk parpol. Karena, kami semua dulunya adalah gerombolan anak-anak dengan semangat yang sama turun ke jalan pun turun ke masyarakat dengan tujuan untuk meneriakan perbaikan keadaan. Saat Suharto terguling, kami melihat bahwa secara politis kekuasaan orang-orang sekitar suharto masih kuat. Dan, kami semua ternyata barus tersadar, tidak memiliki pijakan apapun secara politik. Semestinya, sebagai aktivis mahasiwa yang ingij terlibat secara langsung dalam hingar bingar politik, kami terlebih dahulu harus berkumpul bersama membangun platform perjuangan bersama dengan ideolgi besarnya seperti apa. Yang terjadi waktu itu, diantara kami syahwat politiknya terlalu kuat. Sehingga lupa bahwa kita harusnya membuat platform bersama sebelum ramai-ramai bertebaran masuk ke beberapa partai politik. Bisa dibayangkan kan bagiamana anak-anak muda dengan semangatnya yang masih menggelora, dan masih miskin ideologi, tiba-tiba pada memiliki kesempatan duduk di pucuk pimpinan dan memegang harta yang berlimbah. Ahay....lupalah semuanya cita-cita bernegara yang benar tersebut.
Tidak banyak pihak yang lantas mau memilih untuk bekerja di bidang pengorganisasian. Padahal kerja-kerja pengorganisasian sebenarnya jauh lebih penting dibanding membangun basis di pucuk kekuasaan. Memberi pemahaman dan pendidikan kepada masyarakat akan berdampak lebih sistemik terhadap kehidupan berpolitik. Kerja-kerja pengorganisasianlah yang akan bisa melahirkan para pemilih yang cerdas ditingkat masyarakat. Tanpa kerja pengorganisasian, seperti saat ini, masyarakat yang merupakan pemilik mandat terjebak dalam skema permainan kata-kata dan publisitas, sehingga mandatnya jatuh bukan kepada mereka yang memiliki visi yang jelas, melainkan kepada yang pintar memoles diri dan pegang uang banyak. Parahnya, banyak politisi muda kawan kita malah terbawa dalam dinamika politik yang korup dan miskin visi.
Dan, dari yang sedikit yg mau bekerja di bidang pengorganisasian harus berjuang sendirian dengan segala keterbatasan. Mereka yang sudah berani mengambil resiko pilihan untuk menjadi bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa tidak juga mendapat apresiasi dari kawan-kawan yang sudah bergelimang banyak kesempatan. Kendatipun, seandainya dikasih uluran tangan yang beruba anggaran pasti para pekerja dibidang pengorganisasian tersebut bakal menolak. Tapi, kepedulian secara politis yang berujung pada dukungan program pengorganisasian jauh lebih berguna dan secara langsung maupun tidak langsung pasti akan diterima.
Tapi, karena tidak terbangunya platform bersama, maka tidak ada upaya sistemik untuk menbangun kesadaran politik agar berkembang lebih baik. Yang berada di pucuk kekuasaan terjebak dalam dinamika perebutan pengaruh dan kekuasaan semata, yang bekerja dibawah terjebak dalam kesulitannnya sendiri. Akhirnya, kata perubahan sudah menjebak dirinya dalam kesemrawutan. Kesemrawutan yang melahirkan apatisme.
No comments:
Post a Comment