Tuesday, December 12, 2006

(masih) Yang Pernah Ada

(Akulah Takdirmu)

Ku tunggu kau bersama takdir yang aku paksakan

Lihatlah di sini di sisi pijar mentari
namamu tertulis di telapak tanganku
Aku genggam rasamu atas nama Tuhanku
Tidak ada tempat untuk berpaling
Tidak ada wajah untuk berbanding

Ku tunggu kau di sisi pagi
Akan aku urapi nasibmu dengan keyakinanku
Akan aku tebus langkahmu dengan nasibku
Akan aku isi hidupmu dengan geliat penghidupanku

Ku tunggu kau bersama takdir yang aku paksakan
Lihatlah di sini di sisi pijar mentari
Nafasku menderu dalam rongga parumu
Darahku bergolak dalam denyut nadimu
Rasaku menggeliat mengoyak hatimu
Adakah tempat lain yang bisa kau tuju?
Manakala nasib telah mengantarkanmu pada takdirmu


JakartaMei2004


(Berhentilah Sejenak
)

Berhentilah sejenak di sini
Di sisi pagi kala mentari mulai meninggi
Karena aku masih menunggumu
Dengan segenap asa yang membatu

Tidahkah kau ingin bertukar cerita
Tentang pagi yang mulai meninggi
Tentang mimpi-mimpi
Tentang suasana hati

Aku akan selalu ada
Manakala kau ingin merasa
Dan aku akan tiada
Saat kau mulai enggan merasa

Berhentilah sejenak di sini
Memandang mentari
Rasai hadirnya bersamaku
Adakah geliat itu menyentuhmu?

Jakarta Mei 2004


(Pertanda
)

Tataplah langit kala malam tiba

Aku bentangkan pengharapan dalam wujud gugusan bintang
Adakah pertanda itu singgah dalam kejapan matamu?
Atau malah sanggup membangkitkan tafsirmu
tentang hidup
tentang cinta
tentang bahagia
tentang duka
tentang luka
tentang sakit
dan tentang kita

Tataplah kaki langit kala senja datang
Aku taburkan asaku pada jingga di ujung cakrawala
Adakah pertanda itu sanggup menggerakan maumu?
Atau malah sanggup memberikanmu pemahaman
tentang masa depan
tentang hari ini
tentang hari esok
tentang hari kemarin
tentang lusa
dan tentang kita

Tataplah apapun pertanda yang singgah dalam geliat hidup
Rasaku aku titipkan pada semua yang tertangkap oleh indera
Adakah pertanda itu sanggup menyentuh perasaanmu?
Atau malah sanggup memberimu kerelaan
untuk mencinta
untuk dicinta
untuk berbagi
untuk bersama
untuk menjadi
dan untuk kita


jakarta Mei 2004


(Dalam Keterbatasan Waktu)

dalam keterbatasan waktu yang kita hadapi

dalam ruang hidup yang kita jalani
mungkinkah kita terus berlari tanpa behenti?
sedang dunia pun beranjak tua
bunga-bunga begitu mudah layu dan berguguran
pepohonan begitu mudah lapuk dan bertumbangan

dalam kejaran waktu menjalani kehidupan
tidakkah terpikir olehmu untuk berhenti sejenak?
merasai hadirnya mimpi
tentang mekarnya rasa dalam titian nada yang pasti
sebelum waktu meniadakan keindahan
dan menjadikan kita rongsokan tiada guna

dalam keterbatasan kesempatan yang masih tersisa
tidakkah terpikirkan untuk mengayun langkah bersama
berbagi tempat dalam berbagai rasa
berbagi cerita dalam berbagai suasana
berbagi derita dalam berbagai rupa
berbagi impian dalam berbagai warna

Jakarta Juni 2004



(Kebisuan Abadi
)

Aku telan mimpi-mimpi itu

Bagai butir-butir ektasi

Mengantarku pada dentingan lagu

Yang mengubah nyata menjadi kelabu

Aku kurang mengerti

Apakah terlalu berlebih aku menggambarnya di dinding hati

Atau terlalu banyak campuran warnanya

Yang pasti langkahku kian tak berarti

Dan kau tersenyum lembut

Menatapku hanyut terbawa irama kematian


Lalu kau bicara

Dengan nada-nada tanpa aturan

Menempatkan baris-baris kata

Berlalu tanpa menyentuh pinggir hati

Tapi, itulah nyata yang kau bawa

Yang harus aku terima dengan lapang dada

Mesti harus terbawa ke dalam titian tanpa nuansa

Dan kau tetap tersenyum lembut

Menatapku tenggelam

Dalam lingkaran yang membinasakan


Kini kau menari-nari

Diantara kilauan embun pagi

Mencandai mentari

Dengan segenap tumpahan emosi

Dan segera aku bungkus mimpiku

Dalam lipatan sobekan kain malam

Untuk aku bawa berlari

Dalam kebisuan abadi.


Bandung 1995

No comments: