Tuesday, December 12, 2006

Yang Pernah Ada

(Wangi Musim)

Bagiku

kau adalah angin

yang membawa wangi musim
dari negeri pemilik semua warna musim

Hembusanmu adalah ilusi

bagi pengharapan yang tidak mengenal tepi
Aromamu adalah bunga mimpi
bagi jiwa-jiwa yang tidak pernah mati

kau adalah angin
yang membawa wangi musim
dari negeri pemilik semua warna musim
aku adalah negeri
yang hanya mengenal satu musim

bagiku

wangimu adalah abstraksi sebuah mimpi
yang paling berarti
walaupun
terkadang wangimu pun
adalah absurdnya khayalan tanpa arti

kau tetaplah angin
yang membawa wangi musim
dari negeri pemilik semua warna musim
aku pun
tetaplah negeri yang hanya mengenal satu musim
maka
akan kunanti hembusan dan aroma warna musimu
mengusik warna musimku
setiap detik sepanjang waktu

Jakarta Mei 2004

(Perempuan)

Seandainya kau adalah rembulan
Maka, bersinarlah penuh keagungan kala purnama
Biarkan warna perak menghias semesta

Menidurkan jiwa-jiwa yang sengsara

Menenangkan gejolak hasrat yang meronta


Seandainya kau adalah mentari

Maka, sinarilah birahiku dengan cahayamu
Pancarkan aura cemerlang pada wajahku
Liatkan gerak tubuhku memburu waktu

Bangkitkan impianku menggenggam dunia dalam saku baju


Sayangnya kau adalah perempuan

Jenis yang memang harus selalu disadarkan*

Akan keindahan semesta

Akan keindahan kehidupan yang berjalan

Akan adanya cinta yang menghangatkan

Akan adanya pengharapan yang menantikan


Jakarta Mei 2004
* Danarto dalam cerpennya Kecubung Pengasihan menulis Jenis perempuan memang harus selalu disadarkan.

(Duduklah di sini)


Duduklah di sini

Dikala aku menyambut kedatangan sang mentari
Akan aku mintakan burung-burung bernyanyi untukmu

Mengingatkanmu akan hari-hari penuh pesona

Membiarkanmu menikmati pantulan warna tanpa batas


Pun
Duduklah di sini

Dikala aku melepas kepergian sang mentari

Akan aku mintakan candik ayuÒ menari untukmu

Mengingatkanmu akan hari-hari penuh imaginasi

Membiarkanmu meretas mimpi tentang apapun

Dan
Duduklah di sini

Kala purnama bersinar bulat penuh

Akan aku mintakan bintang-bintang jatuh bertaburan

Mengingatkanmu akan kemegahan alam raya

Membiarkanmu menyembah keagungan kuasa pencipta

Jakarta Mei 2004


Ò . Silhuet bentukan awan jingga kala senjan datang

(Patah
)

Bahkan ketika tidak satu harapan pun menjadi kenyataa
n
Tidak ada alasan bagi siapapun untuk mendustakan sesamanya

Pun ketika asaku kandas ditengah jalan
Karena sapuan lembut gerak tubuhmu yang mematikan
Tidak ada alasan bagiku untuk menjatuhkanmu dari pijakan

Bahkan ketika tidak sekelumit keindahan pun dapat terengkuh
Tidak ada alasan bagi siapapun untuk mencaci sesamanya

Pun kala malam-malamku tidak lagi menyimpan warna impian
Karena kau biarkan gradasinya buyar di pinggir jalan
Tidak ada alasan bagiku untuk mencerabutmu dari ketenangan

Karena harapan dan keindahan adalah abstraksi dan refleksi personal
Maka biarkan aku duduk sendiri di sini
menelan sepi
mengunyah mimpi


Jakarta Mei 2004


(Gadis (yang) kecil
)

Tumbuhlah bersama desir angin

yang membawa wangi musim

dari negeri impian
Sangkutkanlah keinginan pada bentang awan

yang menerbangkan selaksa asa pada sekian kemungkinan yang ada


Lupakan desakan kebutuhan yang meronta merobek rasa
Lupakan laju waktu yang menggerogoti keinginan

Lupakan kewajaran yang bergerak dalam jiwa

Tetaplah berjalan lurus ke depan

Menuju tempat dimana ceria ada dalam satu warna

dan membawa jiwa tidak pernah beranjak tua


Biarkan semua tumbuh dan berkembang

Biarkan semua menjadi tua dan tiada

Biarkan semua bergerak dan berubah

Tetaplah menggenggam mau yang sama

Yang sanggup menggilas perputaran dunia

Sebelum putaranya menggilasmu suatu ketika.......


Jakarta Mei 2004


(Gelisah
)

aku adalah sebuah situasi
yang bergerak liar dalam ketidakpastian

membawa prahara hati yang gelisah


kadangkala ingin aku bakar sisi langit

agar tiada tanya yang mengoyak jiwa

kadang ingin aku sirami semesta dengan cinta
agar damai menerpa jiwa sesama

aku adalah keinginan

yang gagal mengikuti irama kehidupan

berjalan dalam pijakan kaki yang tak nyata


sering aku hujat semesta

mencari jawab dari ketidakberdayaan jiwa


sering pula aku puja pencipta

dalam keterputusasaan yang melanda


aku adalah kenyataan

yang terus diburu gelisah

mengais-ngais pertanda yang tidak pernah nyata

tetap berjalan di persimpangan yang membiaskan


jakarta mei 2004



No comments: