Bagiku
kau adalah angin
yang membawa wangi musim
Hembusanmu adalah ilusi
bagi pengharapan yang tidak mengenal tepi
kau adalah angin
bagiku
wangimu adalah abstraksi sebuah mimpi
kau tetaplah angin
Jakarta Mei 2004
(Perempuan)
Seandainya kau adalah rembulan
Maka, bersinarlah penuh keagungan kala purnama
Biarkan warna perak menghias semesta
Menidurkan jiwa-jiwa yang sengsara
Menenangkan gejolak hasrat yang meronta
Seandainya kau adalah mentari
Maka, sinarilah birahiku dengan cahayamu
Pancarkan aura cemerlang pada wajahku
Liatkan gerak tubuhku memburu waktu
Bangkitkan impianku menggenggam dunia dalam saku baju
Sayangnya kau adalah perempuan
Jenis yang memang harus selalu disadarkan*
Akan keindahan semesta
Akan keindahan kehidupan yang berjalan
Akan adanya cinta yang menghangatkan
Akan adanya pengharapan yang menantikan
Jakarta Mei 2004
* Danarto dalam cerpennya Kecubung Pengasihan menulis Jenis perempuan memang harus selalu disadarkan.
(Duduklah di sini)
Duduklah di sini
Akan aku mintakan burung-burung bernyanyi untukmu
Mengingatkanmu akan hari-hari penuh pesona
Membiarkanmu menikmati pantulan warna tanpa batas
Pun
Duduklah di sini
Dikala aku melepas kepergian sang mentari
Akan aku mintakan candik ayuÒ menari untukmu
Mengingatkanmu akan hari-hari penuh imaginasi
Membiarkanmu meretas mimpi tentang apapun
Dan
Duduklah di sini
Kala purnama bersinar bulat penuh
Akan aku mintakan bintang-bintang jatuh bertaburan
Mengingatkanmu akan kemegahan alam raya
Membiarkanmu menyembah keagungan kuasa pencipta
Jakarta Mei 2004
Ò . Silhuet bentukan awan jingga kala senjan datang
(Patah)
Bahkan ketika tidak satu harapan pun menjadi kenyataan
Tidak ada alasan bagi siapapun untuk mendustakan sesamanya
Pun ketika asaku kandas ditengah jalan
Karena sapuan lembut gerak tubuhmu yang mematikan
Tidak ada alasan bagiku untuk menjatuhkanmu dari pijakan
Bahkan ketika tidak sekelumit keindahan pun dapat terengkuh
Tidak ada alasan bagi siapapun untuk mencaci sesamanya
Pun kala malam-malamku tidak lagi menyimpan warna impian
Karena kau biarkan gradasinya buyar di pinggir jalan
Tidak ada alasan bagiku untuk mencerabutmu dari ketenangan
Karena harapan dan keindahan adalah abstraksi dan refleksi personal
Maka biarkan aku duduk sendiri di sini
menelan sepi
mengunyah mimpi
Jakarta Mei 2004
(Gadis (yang) kecil)
Tumbuhlah bersama desir angin
yang membawa wangi musim
dari negeri impian
Sangkutkanlah keinginan pada bentang awan
yang menerbangkan selaksa asa pada sekian kemungkinan yang ada
Lupakan desakan kebutuhan yang meronta merobek rasa
Lupakan laju waktu yang menggerogoti keinginan
Lupakan kewajaran yang bergerak dalam jiwa
Tetaplah berjalan lurus ke depan
Menuju tempat dimana ceria ada dalam satu warna
dan membawa jiwa tidak pernah beranjak tua
Biarkan semua tumbuh dan berkembang
Biarkan semua menjadi tua dan tiada
Biarkan semua bergerak dan berubah
Tetaplah menggenggam mau yang sama
Yang sanggup menggilas perputaran dunia
Sebelum putaranya menggilasmu suatu ketika.......
Jakarta Mei 2004
(Gelisah)
aku adalah sebuah situasi
yang bergerak liar dalam ketidakpastian
membawa prahara hati yang gelisah
kadangkala ingin aku bakar sisi langit
agar tiada tanya yang mengoyak jiwa
kadang ingin aku sirami semesta dengan cinta
agar damai menerpa jiwa sesama
aku adalah keinginan
yang gagal mengikuti irama kehidupan
berjalan dalam pijakan kaki yang tak nyata
sering aku hujat semesta
mencari jawab dari ketidakberdayaan jiwa
sering pula aku puja pencipta
dalam keterputusasaan yang melanda
aku adalah kenyataan
yang terus diburu gelisah
mengais-ngais pertanda yang tidak pernah nyata
tetap berjalan di persimpangan yang membiaskan
jakarta mei 2004
Bahkan ketika tidak sekelumit keindahan pun dapat terengkuh
Tidak ada alasan bagi siapapun untuk mencaci sesamanya
Pun kala malam-malamku tidak lagi menyimpan warna impian
Karena kau biarkan gradasinya buyar di pinggir jalan
Tidak ada alasan bagiku untuk mencerabutmu dari ketenangan
Karena harapan dan keindahan adalah abstraksi dan refleksi personal
Maka biarkan aku duduk sendiri di sini
menelan sepi
mengunyah mimpi
Jakarta Mei 2004
(Gadis (yang) kecil)
Tumbuhlah bersama desir angin
yang membawa wangi musim
dari negeri impian
Sangkutkanlah keinginan pada bentang awan
yang menerbangkan selaksa asa pada sekian kemungkinan yang ada
Lupakan desakan kebutuhan yang meronta merobek rasa
Lupakan laju waktu yang menggerogoti keinginan
Lupakan kewajaran yang bergerak dalam jiwa
Tetaplah berjalan lurus ke depan
Menuju tempat dimana ceria ada dalam satu warna
dan membawa jiwa tidak pernah beranjak tua
Biarkan semua tumbuh dan berkembang
Biarkan semua menjadi tua dan tiada
Biarkan semua bergerak dan berubah
Tetaplah menggenggam mau yang sama
Yang sanggup menggilas perputaran dunia
Sebelum putaranya menggilasmu suatu ketika.......
Jakarta Mei 2004
(Gelisah)
aku adalah sebuah situasi
yang bergerak liar dalam ketidakpastian
membawa prahara hati yang gelisah
kadangkala ingin aku bakar sisi langit
agar tiada tanya yang mengoyak jiwa
kadang ingin aku sirami semesta dengan cinta
agar damai menerpa jiwa sesama
aku adalah keinginan
yang gagal mengikuti irama kehidupan
berjalan dalam pijakan kaki yang tak nyata
sering aku hujat semesta
mencari jawab dari ketidakberdayaan jiwa
sering pula aku puja pencipta
dalam keterputusasaan yang melanda
aku adalah kenyataan
yang terus diburu gelisah
mengais-ngais pertanda yang tidak pernah nyata
tetap berjalan di persimpangan yang membiaskan
jakarta mei 2004
No comments:
Post a Comment