sekian bulan setelah gempa dan kegemparan isyu tsunami yang sempat membuat warga joja dan klaten kocar-kacir ada tertinggal beberapa cerita yang membuat kami semua tersenyum simpul, walau ceritanya sebenarnya cukup membuat kita mengelus dada.
bila kepanikan sudah melanda dan membuat kesadaran kolektif teracuni, maka akal sehat menjadi tertepikan oleh kepanikan yang menular dan menjalar melebihi kecepatan gerak apapun. demikian pula yang terjadi sesaat setelah gempa di jogja dan jateng. isyu tsunami entah bermula darimana, yang pasti masyarakat bantul mendengar adanya isyu tersebut kemudian guliran isyu itu merambat sampai ke jogja, kalten bahkan sampai mengusik warga solo. kota jogja terletak kurang lebih 30 kilometer dari laut selatan, dan berada di ketinggian 120 meter diatas laut, logika akal sehat pasti akan tertawa ketika ada yang berkata tsunami akan melanda jogja, tapi bila akal sehat sudah tertutup sama kepanikan kolektif maka logika tumpul dan semua larut dalam kepanikan. kota klaten berada sekitar 50 kilometer dari laut selatan, disebelah selatan klaten berjajar pegunungan kidul menjulang tinggi, sekali lagi bila menggunakan akal sehat maka mana mungkin air sanggup menaiki bukit dan membanjiri klaten. tapi, sama dengan warga jogja yang panik, warga kalten pun turut memenuhi jalanan untuk secepatnya keluar dari wilayah mereka yang kabarnya akan terkena tsunami.
cerita lucu yang tertinggal di wilayah klaten kebanyakan terjadi di wilayah selatan yang berbatasan dengan wilayah DIY. orang-orang klaten selatan begitu mendengar tsunami langsung berlarian tidak karuan dengan berbagai kendaraan yang mereka punya. semua bergerak ke arah pegunungan kidul yang sebenarnya malah lebih dekat ke arah laut daripada wilayah mereka. saat sebagain sudah sampai diatas bukit dan melihat ke arah utara akan terlihat hamparan putuih yang luas dan banyak. sebenarnya hamparan putih itu adalah jaring kasa putih yang dipakai Perkebunan Tembakau untuk menutupi tanaman tembakau khusus yang tidak tahan kena angin langsung maupun hujan langsung. tapi, orang-orang yang sudah panik menganggap itu adalah hamparan air yang menggenangi wilayah klaten selatan. asumsi mereka air berasal dari jogja lewat prambanan dan sampai klaten (mang air datangnya lewat jalur jalan raya?). beberapa orang yang mengetahui bahwa hamparan putih itu adalah jaring tembakau mencoba menenangkan mereka yang panik, tapi orang-orang tua yang memang jarang bepergian jauh ngotot bahwa itu adalah air. baru setelah hamparan itu diam ga bertambah luas dalam hitungan jam, orang baru percaya bahwa itu bukan air.
lain lagi cerita warga karangturi, kecamatan gantiwarno, klaten. saking takutnya mendengar isyu tsunami, prosesi pemakaman anggota keluarga yang meninggal terpaksa dibatalkan dan jenasah diikat di sebuah pohon dengan harapa bila air datang jenasah tidak ikut hanyut. sebenarnya banyak yang kabur meninggalkan keluarga mereka yang meninggal akibat gempa kemarin, tapi yang sampai kepikiran mengikat jenasah sodaranya di pohon, sepengetahuan gue hanya warga karangturi tersebut.
lain lagi cerita seorang temen yang gue kenal pada sebuah pelatihan di jogja. saat gempa dia sedang dalam perjalanan ke bantul pake motor. begitu gempa reda langsung dia tancap gas menuju rumahnya yang di jogja untuk memastikan nasib anak dan istrinya. mendadak sodaranya telepon;
" kamu dimana?" tanya sodaranya
" di bantul,"
" keluarga bagaimana?"
" belum tahu."
" cepat kamu pulang selamatkan mereka, tsunami sudah sampai malioboro!!" pekik sodaranya
" bagaimana mungkin? ini aku di bantul, air belum sampai sini, masa sudah sampai jogja?"
" sudahah jangan ngeyel, tidak tahu air darimana, tapi kabarnya sudah sampai malioboro. cepat kamu pulang!!"
tidak lama kemudian isyu tsunami juga menyerang orang-orang sekitar temen tersebut berada. katanya air sudah mau masuk kota bantul. karena terbawa arus kepanikan, teme tersebut ikut tancap gas, walau tujuannya adalah rumah untuk memastyikan keadaan anak dan istrinya.
No comments:
Post a Comment