Tuesday, May 02, 2006

Toleransi

Toleransi, kata ini mudah sekali diucapkan tetapi teramat sulit untuk diwujudkan di negeri ini. Setiap saat kita mendengar kata yang menyejukan ini, tidak lama kemudian dihadapan kita terpampang peristiwa memprihatinkan yang berasal dari pengabaian kata tersebut. Belakangan hari istilah ini kembali mencuat seiring polarisasi dukungan terhadap RUU Anti Pornobraphi dan Pornoaksi.

Orang-orang yang mengklaim dirinya berkepentingan dengan diberlakukanya RUU tersebut dengan semangat juang yang teramat tinggi mencoba melakukan tindakan-tindakan yang agak-agak mengabaikan istilah toleransi dengan mengintimidasi mereka yng menolak RUU tersebut. Akibatnya bisa dilihat betapa kita disuguhi tontonan yang tidak menarik dari orang-orang berwajah angker dengan argumentasi-argumentasi yang memperihatinkan menunjukan diri seolah diri mereka yang paling mengerti dan paling benar menjelaskan persoalan esensi pornographi dan pornoaksi.

Ketika masyarakat mengidentifikasikan dirinya dengan standar-standar moral tertentu berdasarkan asumsi persoalan dengan embel-embel referensi akidah keagamaan dan menutup mata pada nilai-nilai yang diyakini pihak lain, maka akan terjadi penyumbatan aspirasi secara paksa. Pemaksaan semakin mendapat tempat ketika secara cultural masyarakat yang ada terpolakan dalam persepsi nilai yang berorientasi pada sektarianisme berbasis keyakinan. Keyakinan yang mengalami perubahan bentuk menjadi identitas sosial akan membawa konsekwensi yang tidak sehat bagi pola relasi dalam masyarakat yang majemuk.

Kondisi masyarakat seperti itu mustinya terjadi sekian decade yang sudah lewat. Ketika arus globalisasi dan informsi sudah membuat manusia tersadarkan akan kemajemukan nilai-nilai dalam kehidupan social, semestinya sektarianisme berbasis keyakinan tidak lagi memunculkan pemaksaan terhadap kaidah keyakinan yang dipegang komunitas yang lain. Ketika lmu pengetahuan sudah berkembang sedmikian pesat, mustinya kesepahaman antar sesama perihal pernghormatan hak individu sudah melewati fase yang lebih baik.

No comments: