Tuesday, May 02, 2006

Refleksi Hari Buruh

Dalam peradapan industrialisasi seperti sekarang ini, sebagian umat manusia di dunia berprofesi sebagai buruh. Perkembangan peradapan dan ilmu pengetahuan membuat perubahan yang mendasar pada cara manusia memenuhi kebutuhan hidupnya.

Revolusi peradapan yang berangkat dari revolusi industri membuat kualitas hidup manusia menjadi lebih baik. Walaupun juga tidak bisa dipungkiri, revolusi tersebut juga melahirkan apa yang dinamakan eksploitasi manusia atas alam pun atas sesama manusia. Revolusi tersebut juga menjadi pendulum bagi terbentuknya kelas buruh dalam stratifikasi masyarakat.

Buruh menjadi kelas yang sedemikian fenomenal dalam perkembangannya. Kelas ini memberikan sumbangan yang beragam bagi kehidupan umat manusia.
Kajian-kajian sosial yang mencoba memberikan solusi atas persoalan yang mereka hadapi memunculkan banyak sekali mazhab sosial yang sampai saat ini masih dijadikan referensi banyak pihak. Bahkan ideologi tertentu dan sistem pemerintahan sebuah negara seringkali terbentuk didilhami oleh karena adanya ketidakadilan dalam hubungan buruh dan pengusaha.

Di negara-negara yang tingakt responsibilitas atas hak-hak individu sudah mulai tinggi, nasib buruh mengalami perbaikan kondisi yang cukup signifikan. Pemahaman mengenai hak buruh yang bukan lagi dianggap sebagai bagian dari alat produksi semata, membawa dampak yang cukup fundamental terhadap perbaikan kualitas kehidupan buruh. Buruh yang menjadi kelas dominan, walau bukan pemegang terhadap akses kepemilikan modal, haknya untuk turut menimmati nlai lebih dari suatru proses produksi dijamin.


Namun, kondisi tersebut belum menyentuh nasib kaum buruh di negeri ini. Bahkan istilah buruh mengalami pergeseran makna. Buruh bermakna hanya sebagai kelas pekerja kasar di pabrik-pabrik saja. Sementara buruh yang bekerja di kantor-kantor bagus dan berpendingin ruangan menganggap diri mereka lebih tinggi kelasnya dan mengklaim dirinya kelas pekerja bukan buruh. Padahal secara esensial nasib mereka dalam stratifikasi sosial sama saja, yang membedakan hanya persoalan gengsi saja. Dikotomi istilah buruh dan pekerja yang sebenarnya berarti sama, menjadikan upaya perjuangan kaum buruh (pekerja) menuntut haknya semakin sulit. Buruh pabrik yang didominasi SDM secara intelektual kurang harus berjuang sendirian, ditinggalkan kelas buruh berekonomi menengah yang merasa dirinya hidup enak. Sehingga nasib buruh di negeri ini jauh panggang dari api, bahkan ibarat pesakitan. Mereka harus menghadapi pemerintahan yang tidak memiliki sense of humanity terhadap nasib mereka, juga menghadapi sesama buruh yang keblinger oleh berpenghasilan lebih baik dan pemahaman strata sosial yang salah. beda misalnya dengan di Perancis, saat ada perubahan UU ketenagakerjaan yang dianggap tidak adil, yg berdemo menolak adalah kaum mahasiswa dan kelas menengah, karena merekalah calon buruh dan buruh yang akan terimbas secara langsung oleh UU yang dianggap tidak adil tersebut.

Jadi jangan heran, bila di negeri ini hari buruh masih diwarnai dengan demo yang bernuansa desakan untuk memperhatikan nasib mereka. Sementara di negara2 yang lebih maju penghargaan terhadap hak-hak individu, hari buruh dirayakan dengan libur kerja secara nasional. Yang lebih menyedihkan lagi, pengusaha seolah-olah sudah terugikan sekian trilyun, oleh karena pada peringatan hari buruh para buruh tidak masuk kerja dan memilih pawai di jalanan. Mereka lupa bahwa setiap tahunya sudah memeras tanaga buruh dengan imbalan yang jauh dari standar kualitas hidup yang mestinya buruh dapatkan.

Bersatulah kaum buruh, bila ingin mendapatkan hak sebagai perkerja sebagaimana mestinya.

No comments: