Orang mengenalnya sebagai salah satu penulis terbesar di negeri ini. Orang juga pernah mengenalnya sebagai sastrawan yang pernah ikut terbawa arus perputaran konstelasi politik yang membuatnya pernah turut menindas sesama penulis yang tidak sepaham. Lantas orang mengenalnya sebagai salah satu korban kebiadaban Orde Baru dalam membangun stigma lawan politik yang harus diberangus. Orang mengingatnya sebagai salah satu orang yang terbunuh karakter dan kehidupan sosialnya oleh karena kepentingan politik menganggapnya mewakili stigma aliran politik yang dianggap sesat.
Gue mengenalnya sebagai penulis yang membuat Bonar Tigor Naipospos (Coky) dan Bambang Isti Nugroho masuk bui, karena menjual buku-buku tertraloginya di Jogja pada zaman Suharto masih berkuasa. Lantas gue mengenalnya juga sebagai penulis yang bukunya dianggap berbahaya bagi stabilitas pemerintah Orde Baru. Gue juga mengenalnya sebagai penulis yang sanggup membuka alam pikiran kita tentang abstraksi kehidupan yang sedemikian luas. Gue menganggapnya sebagai penulis yang sanggup membebaskan alam pikiran dari jerat kultural yang meninabobokan wilayah batin. Gue mengakui sebagai penulis yang memberi gambaran yang lain bagi mata hati gue dalam berdialog dengan sejarah negeri ini. Gue menempatkan buku-bukunya sebagai mahakarya yang layak dibaca, ditelaah dan dimengerti secara lebih jauh. Gue menempatkan buku-bukunya pada rak buku gue pada bagian buku-buku favorit.
Gue kehilangan dia Minggu 30 April 2006 kemarin. Waktu telah merenggutnya dari hadapan kita semua. Waktu telah memintanya untuk berhenti berkarya dan beristirahat, karena raga sudah tidak sanggup lagi mengakomodir kebutuhan batiniahnya. Selamat jalan Bapak Pramodya Ananta Toer, semoga dibumi ini akan lahir kembali manusia yang memliki daya nalar, abstraksi dan kemampuan merangkai kata-kata dalam tulisan panjang sepertimu. Kami semua kehilangan atas kepergianmu….
No comments:
Post a Comment