Orang Tulung Agung punya kebiasaan minum kopi saban hari. Saking merakyatnya kebiasaan ini, hingga hampir disetiap pertigaan dan tempat yag agak rame dikit selalu ada warung kopi. Dan yang namanya warung kopi, selalu buka sampai larut malam dan selalu dipenuhi dengan pengunjung setia. Dari kebiasaan ngopi yang sudah mendarah daging inilah kemudian muncul beberapa kebiasaan yang berhubungan dengan tetek bengek perkopian. Salah satunya adalah menorehkan cethe pada rokok yang mau dihisap.
Cethe adalah endapan kopi yang disedu. Biasanya endapan ini terkumpul di dasar gelas saat kita minum kopi, tentunya selain nescape yg pelit kasih endapan. Mungkin demi alasan untuk mendapatkan kenikmatan lebih, orang2 lantas mengoleskan endapan kopi, alias cethe. Kebiasaan ini rupanya juga sudah mendarah daging. Setiap saat gue jalan ke warung kopi, selalu gue orang menghisap rokok yang berwarna hitam/coklat oleh karena olesan cethe. Bahkan beberapa warung kopi dengan jelas memasang pengumuman menyediakan cethe yang enak. Konon, tidak sembarang kopi menghasilkan cethe yang memiliki aroma dan rasa yang nikmat untuk dioleskan pada sebatang rokok.
Dan minggu kemarin, bersaan dengan hari jadi kota Tulung Agung yang ke 800, diadakan lomba me-nyethe. Gak tanggung2 Gudang Garam menyeponsori acara ini. Gudang Garam mewajibkan hanya rokok Gudang Garam Merah yang boleh dijadikan media yang akan di cethe. Menurut keterangan banyak orang, rokok Gudang Garam Merah memiliki bahan pembungkus batang rokok yang tipis, hingga sulit di cethe. Tanpa keahlian khusus, biasanya hasil dari upaya menyethe rokok tersebut akan berakhir dengan putusnya sang rokok. Namun, hal itu konon bukan halangan buat pereka yang sudah ahli dalam hal per-cethean.
Lomba yang di adakan di pusat kota Tulung Agung diikuti perserta dari seluruh kecamatan. Masing2 kecamatan mengirimkan dua perwakilan. Menurut salah seorang panitia, dalam lomba ini hal2 yang akan dinilai adalah; aroma, rasa, dan nilai artistik dari hasil percethean. Aroma, katanya kebanyakan peserta akan memberi aroma vanila untuk menimbulkan efek bau yang enak, hanya saja biasanya yang beraroma vanila kurang enak saat rokoknya dihisap, katanya bikin sesek napas. Sedang rasa, sudah pasti rasa rokok yang sudah di cethe harusnya tambah nikmat, jika tidak berarti gagal percetheannya. Sementara berkaitan dengan penilaian artistik adalah terletak pada keindahan gambar atau menurut istilah mereka "batikan" pada rokok yang di cethe. Karena rokok Gudang Garam Merah sulit di cethe, maka keberhasilan membuat gambar dengan tanpa harus membuat rokok putus akan dapat nilai tersendiri.
Well, boleh percaya boleh tidak, di daerah lain di Indonesia, walaupun cethe atau mengoleskan endapan kopi pada rokok juga dikenal, tapi tidak ada yang semaniak orang Tulung Agung, sampai ada perlombaan nyethe segala. Hebatnya perlombaan ini konon sudah menjadi acara rutin setiap tahun yang diadakan oleh pemerintah Kabupaten Tulung Agung dan selalu di dukung sponsor dari perusahaan rokok besar. Mungkin, kebiasaan nyethe orang Tulung Agung ini yang kemudian mengilhami munculnya rokok beraroma capucino. Walaualam...
1 comment:
ada2 aja ya orang2 sana. tapi paling hebat gudang garam ya, jeli banget liat ada kebiasaan itu langsung dibuat event.
Post a Comment