Monday, March 07, 2005

BBM

kenaikan bbm dah ditetapkan dah dah lewat beberapa hari. tapi polemiknya ampe hari ini masih aja rame. kompas, senin, 7 maret, 2005, di dalam kolom artikel terdapat tulisan 3 orang yang mengecam habis freedom istitute yang dikomandoi rizal mallaranggeng. dimana freedom institute dengan didukuang beberapa cendikiawan, termasuk komunitas utan kayu (geng tempo), sempat beriklan di kompas mendukung kenaikan bbm dengan berbagai alasan. alasan yang utama sih sebenarnya mereka mendukung liberalisasi ekonomi.

lantas banyak orang mengecam apa yang sudah dilakukan oleh freedom institute, lembaga yang konon kabarnya independen, mengapa menjadi berafiliasi dengan kepentingan kekuasaan. bahkan terang2an beriklan mendukung kebijakan pemerintah yang tidak populis dimata masyarakat.

kalau gue sih sebenarnya gak terlalu heran kalau rizal dan freedomnya tiba2 beriklan demikian di kompas bahkan dengan embel2 provokasi menantang penentang kenaikan bbm untuk memasang iklan juga di kompas berisikan penentangan atas kenaikan bbm. rizal dan andi mallaranggeng, kakaknya, sejauh ini memang dekat dengan kelompok pendukung sby, selain itu freedom institute selama ini didanai oleh abu rizal bakrie (menko ekuin-nya sby), jadi bukan sesuatu yang aneh kalau doi membuat statemen dan bahkan berusaha mempengaruhi banyak pihak agar mendukung kenaikan bbm lewat iklan tersebut. yang aneh adalah saat dia (dan yang lainnya) menyebut atau disebut orang sebagai cendekiawan. setahu gue cendekiawan akan memiliki sense yang lumayan peka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. cendekiwian memiliki sikap yang lebih hati2 dan bijak ketika harus berpihak kepada siapa dia saat mengadapi realitas kehidupan. bukan serampangan dan pongah seperti itu. menurut gue sih, mereka tidak lebih sebagai kaum terdidik yang demi kepentingan tertentu berpihak pada satu kekuatan politik yang kebetulan saat ini menang dan berkuasa, jadi wajar kalau mereka membuat iklan demikian. yang salah adalah kita yang menganggap penting orang seperti rizal, andi dan lainnya, sebagai sosok yang layak dipertimbangakan pikiran dan ucapannya. sampai kadang2 wartawan dengan segala daya berusaha mewawancarai mereka untuk diminta opininya. mustinya hal itu gak perlu, rizal dan kaum terdidik lainnya yang berselingkuh dengan kekuasaan gak penting-lah.

apa mau dikata bbm dah naik. banyak orang menjerit. walau pemerintah bilang ini demi penyelamatan banyak uang negara dengan mengurangi subsidi bbm, tapi banyak orang tetap tidak bisa memahaminya. begitu banyak uang negara dihamburkan oleh dana blbi yang ternyata dikorup oleh konglomerat hitam. banyak uang melayang karena korupsi pejabat negara dan pejabat lainnya. tapi negara tidak berhasil melakukan apapun demi penyelamatan itu. jangankan menyelamatkan, menangkap mereka yang mencuri uang negara aja gak bisa. konon kabarnya negara ini paling korup, tapi kita tidak bisa melihat koruptornya seperti apa.

negara dimanapun juga mustinya melindungi kepentingan warganya dengan salah satunya adalah memberikan subsidi. dalam konsep negara kesejahteraan, bila rakyat jatuh miskin, maka negaralah yang dianggap sudah salah mengurus jalannya pemerintahan. dalam konsep negara kesejahteraan negara bertanggungjawab terhadap kehidupan warganya. sementara dalam konsep negara indonesia negara justru sering berperan atas pemiskinan warga negaranya. dalam konsep negara indonesia negara menjadi salah satu variabel penting untuk mendapat keuntungan bagi mereka yang kuat. makanya tidak heran negara jatuh miskin, tapi sebagian kecil warga negaranya hidup dalam gelimang harta. banyak perusahaan milik negara bangkrut dan sebagainya, tapi semua pejabatnya malah memiliki deposito yang bisa dipakai untuk hidup 7 turunan. makanya menjadi tidak heran kalau banyak orang berlomba2 untuk dekat atau bahkan duduk dalam kekuasaan. soalnya berkuasa di indonesia ini memang enak dan mendatangkan keuntungan finansial yang ujubilah setan.

jadi marilah kita abaikan saja orang2 kayak rizal mallaranggeng dan teman2nya yang katanya kaum intelektual tapi gak punya sense terhadap penderitaan orang banyak itu.

No comments: