Monday, July 17, 2006

Setelah Gempa

akhirnya setelah 1,5 bulan berkutat dengan puing-puing bangunan yang luluh lantak dihajar gempa, gue bisa berlama-lama di depan computer dan membuka blogger lagi. terimakasih buat temen-temen Silvagama yang udah memberi tumpangan internet gratis dan temen dari Perkumpulan Karsa yang meberikan laptop buat gue bawa-bawa kesana kemari.

tanggal 27 juli 2006 lalu rumah gue hancur oleh goncangan gempa yang melanda jogja dan jateng, alhamdulillah nyokap gue selamat. tapi, rumah kuno gue yang pernah menjadi saksi gue dan sodara-sodara gue tumbuh dan berkembang hilang menjadi ongokan puing. kampung yang dulu pernah menjadi saksi betapa ga kaeruannya masa remaja gue berubah menjadi tumpukan puing dan berisikan warga yang gamang menatap masa depannya.
masyarakat jawa memandang rumah sebagai sebuah pencapaian tertinggi dalam hidup. orang belum dianggap menjadi manusia utuh sebelum memiliki rumah. dan rumah yang bagus akan mewakili kelas sosial seseorang di lingkungannya. ketika mendadak rumah mereka hancur maka sebagai manusia mereka merasa tidak lengkap. hal yang sedikit menghibur adalah jumlah rumah yang ambruk jauh lebih banyak dibanding rumah yang masih berdiri, sehingga mereka yang rumahnya hancur merasa mendapat temen. merasa tidak sendiri sedikit banyak membantu mereka untuk sedikit menghibur diri atas kehilangan rumah dan harta benda.
keterkejutan warga kami atas hilangnya rumah dan harta benda, serta sebagaian yang kehilanganb anggota keluarga tidka berjalan lama. setelah satu minggu, orang2 lantas tergerak hatinya untuk segera membersihkan puing-puing dari bekas rumah mereka. beruntungnya gue, temen-temen dari jogja dan bandung datang dengan bantuan logistik maupun bantuan relawan untuk meberi bantuan moral dan tenaga bagi pemulihan kondisi psikologis warga. terimakasih buat KPA Bandung, temen-temen pencinta alam Unisba, temen-temen pecinta alam SMA 17 bandung, temen-temen Walhi Jabar, temen-temen Pergerakan bandung, temen-temen Perkumpulan KARSA jogja, temen-temen Silvagama jogja, temen-temen petani dari randu blatung blora, Radio mara bandung dan banyak lagi yang lain.
khusus untuk KARSA dan Silvagama, sampai hari ini mereka masih terus memberikan suport bantuan, baik logistik non food maupun bantuan pelatihan keorganisasian. dan kedepannya gue sama beberapa temen yang memiliki basis garapan wilayah pedesaan (KARSA, KPA) dan perhutanan (Silvagama) mencoba mengembangkan program pembangunan desa. bencana gempa kemarin menjadi titik masuk bagi kami untuk selanjutnya mencoba mengajak warga desa melakukan reorientasi terhadap banyak hal. bukan pekerjaan yang mudah memang, tapi harus dicoba agar masyarakat desa mampu membangun jati diri mereka setelah sekian tahun identitas mereka dikikis oleh isntitusi negara yang senantiasa memaksakan adanya keberagaman dari sabang sampai merauke, menghapus keberagaman yang sebenarnya adalah modal sosial yang sangat besar.
gempa harus kita lihat sebagai sebuah pendulum bagi bangkitnya warga desa guna melakukan perombakan dalam banyak hal. bila tatanan politik tidak sanggup memberi stimulus bagi tumbuhnya semangat untuk menemukan formula perbaikan mental dan semangat juang, maka alam biasanya akan melakukannya. dan mudah-mudahan bencana yang sudah membuat hati ini miris bukan hanya hukuman atas kelengahan dan kelemahan kita, tapi juga sebagai pelecut agar bangsa ini bangkit menggapai hidupnya dalam semangat yang lebih baik. jerman dan jepang pernah hancur oleh karena perang dunia, mereka bisa bangkit dari keterpurukan yang sedemikian rupa untuk kemudian kembali menjadi pioner dalam banyak hal. semoga negeri ini terlecut oleh hantaman alam yang tidak hentinya mendera, semoga.
impian inilah yang coba kita urai menjadi beberapa pekerjaan yang sanggup kita lakukan kedepan. mungkin hanya secuil yang bisa kita ambil dan laksanakan dari sekian lembar impian tersebut. tapi dari yang secuil itu mudah-mudahan bisa memberi warna tersendiri buat masyarakat pedesaan yang selama ini senantiasa terpinggirkan oleh realitas politik.

2 comments:

LizaFrancis said...

Turut berduka cita atas semua korban bencana gempa. Aduh tapi untung ibumu selamat dan kau tidak apa2. Fiuh!

sugnelagi said...

tengyu pul