Wednesday, March 15, 2006

Nasihat yg bisa jadi salah

Beberapa waktu yang lalu gue mendapat kabar bahwa salah satu temen gue waktu sama-sama di MPS UI, yang pernah gue khawatirkan akan di DO, ternyata benar-benar memutuskan ga menyelesaikan program di MPS karena banyak alasan (walau menurut gue yg utama adalah biaya).
Temen gue ini pegawai negeri di pemda DKI, dan dia masuk program MPS atas beasiwa pemerintah. Dia punya kewajiban harus menyelesaikan studinya, bila gagal, dia harus mengembalikan biaya studi keseluruhan dan biasanya karirnya juga akan mandeg. Lantas kebayang sama gue, betapa repotnya dia kalo harus mengembalikan seluruh biaya studi serta menghadapi kenyataan jenjang karirnya akan suram. Cuma temen gue ini juga agak aneh, dia selalu menutupi kondisi finansialnya dihadapan temen2 yang lain, jadi aja temen2 yg lain ga tau lantas gak peduli sama persoalan finansialnya.
Mendadak gue teringat kejadian beberapa tahun yg lalu saat kita baru masuk di MPS. Waktu itu gue ama temen gue ini ngumpul ama 2 orang temen perempuan yg lain di TIM, dalam obrolan tersebut keluarlah pengakuan dari temen gue ini bahwa dia sebenarnya punya istri da 2 anak di palu sana. Cuma, karena dia orang padang dan anak laki-laki pertama, sementara istrinya kristen, maka perkawinanya ampe hari itu masih dirahasiakan dari keluarganya. Jadi dai hanya berkunjung ke palu saat ada waktu libur.
Kontan gue ama satu temen perempuan gue menuduh dia ga tanggungjawab, apalagi dia dah berumur 30 tahun lebih. Masak setega itu membiarkan anak dan bininya realitasnya tidak nampak dimata keluarga pun dimata semua orang dimana saat ini dia beraktivitas. Dan semenjak obrolan itu gue dan temen perempuan gue ini, yg memang sering pulang semobil bersama, sering meledekinya ga gentle dsb.
Entah karena risi kita ledek, atau memang dia mau anak dan bininya datang ke jakarta dan idup barng dengannya, setahun kemudian dia bawa istri dan seorang anaknya menetap di jakarta dengan resiko mendapat amarah yg luar biasa terutama dari ibunya. dan semenjak itu dia mengalami banyak persoalan finansial, sampai akhirnya biaya kuliahnya juga tersedot untuk pos-pos yang lain. hal itu ditambah persoalan istrinya keguguran pula.
Mendadak gue ama temen perempuan gue yang suka ngledekin temen gue ini merasa bersalah oleh karena secara langsung maupun tidak langsung sudah mem-fait a compli temen gue ini agar membawa anak dan bininya ke jakarta, walau sebenarnya secara perekonomian dia belum siap.
Yang membuat kita semakin ga enak, temen gue ini tetep menutup diri terhadap usaha kita untuk mencoba mengerti persoalan dia pun semua usaha untuk sedikit meringankan bebannya. Dia seolah ingin menunjukan ke semua orang bahwa dia sanggup menghadapi persoalannya sendirian.
Hmmm....repotnya.

No comments: