Flu burung, penyakit yg satu ini belakangan teramat populer. Hampir semua media memberi porsi yang sangat banyak bagi keberadaan, serta sepak terjangnya dalam menjangkiti umat manusia. Oleh karena sedemikian gencarnya media memberi porsi pada keberadaanya, maka penyakit ini juga mendapat perhatian yang berlebih oleh pemerintah suatu negara, tidak terkecuali Indonesia.
Ada banyak penyakit mematikan dan penularanya terjadi sedemikian cepat di dunia ini, pun di Indonesia. Tapi, hanya ada sedikit penyakit yang sanggup menyita perhatian publik oleh karena keberadaan, serta penularanya. Dari yang sedikit itu yang sangat populer adalah AIDS, dan Flu Burung. Lantas apa kabarnya dengan penyakit; Kanker, Demam Berdarah, Malaria, dan penyakit menular yang berbahaya lainnya? Kabarnya yang jelas tidak sepopuler kedua saudaranya diatas.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Ini pertanyaan menarik dan bisa menimbulkan komentar yang agak kontroversial. Kalau menurut gue, penyakit-penyakit tersebut kalah populer karena kurang sanggup membuat orang bereaksi berlebih atas keberadaan penyakit tersebut. Kanker sangat mematikan, bahkan dari fase terkena sampai pada kematian jauh lebih cepat dari AIDS, cara menyerangnya juga sulit diidentifikasi. Hanya saja karena awal terserangnya kanker yang sulit teridentifikasi dan kemungkinan tidak menular membuatnya tidak menjadi sensasi bagi banyak orang, makanya keberadaan dia tidak masuk dalam kategori news yang layak di ekspos.
Beda dengan AIDS, penyakit yang satu ini proses penularanya lumayan teridentifikasi. Konon kabarnya disebabkan oleh gaya hidup, serta perilaku seksual (hal yang paling banyak dibahas dan dilakukan orang), sehingga AIDS menjadi penyakit yang sedemikian menakutkan (mungkin karena proses penularanya sedemikian dekat dengan kehidupan manusia, walau kanker juga sangat dekat). Oleh karena dianggap sedemikian dekat dengan perilaku dalam kehidupan sehari-hari maka AIDS menjadi sedemikian mengundang perhatian publik.
Demikian pula Flu Burung. Penyakit ini konon penularanya melalui binatang yang selama ini hidup damai dengan manusia, bahkan banyak yang di pelihara. Bandingkan dengan Demam Berdarah atau Malaria, kedua penyakit ini menyebar melalui nyamuk, kendati hidupnya lebih dekat dengan manusia, tapi nyamuk bukan binatang yang keberadaannya dianggap oleh manusia. Atau eksistensi nyamuk dianggap tidak pernah berarti oleh manusia. Sehingga Demam Berdarah dianggap penyakit biasa yang datang setiap musim hujan, kebetulan saat hujan nyamuk lagi giat-giatnya berbiak. Walaupun sebenarnya penyakit ini juga sangat berbahaya dan sering menelan korban jiwa tidak sedikit.
Disamping itu demam berdarah dan malaria adalah penyakit pada daerah tropis. Negara-Negara Barat tidak akan mungkin terserang penyakit ini. Oleh karena penyakit tersebut bukan sesuatu yang bergerak dekat pada domain hidup orang bule, maka media internaional kurang memberikan respon yang cukup. Imbasnya media lokal dan pemerintah Indonesia juga lebih memilih memberi porsi yang berlebih pada Flu Burung yang jelas-jelas berpotensi mengancam keselamatan banyak penduduk dunia termasuk orang-orang bule di tanah mereka sendiri.
Disamping itu demam berdarah dan malaria adalah penyakit pada daerah tropis. Negara-Negara Barat tidak akan mungkin terserang penyakit ini. Oleh karena penyakit tersebut bukan sesuatu yang bergerak dekat pada domain hidup orang bule, maka media internaional kurang memberikan respon yang cukup. Imbasnya media lokal dan pemerintah Indonesia juga lebih memilih memberi porsi yang berlebih pada Flu Burung yang jelas-jelas berpotensi mengancam keselamatan banyak penduduk dunia termasuk orang-orang bule di tanah mereka sendiri.
Padahal kalau mau jujur semua penyakit yang gue sebut diatas memeliki resiko yang hampir sama bagi keselamatan orang Indonesia. Bahkan Demam Berdarah dan malari penularanya sangat cepat. Tapi mengapa hanya Flu Burung yang kemudian mendapat porsi berlebih? Mengapa waktu wabah Demam Berdarah menyerang daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur pemerintah tidak melakukan penyemprotan massal dan menyediakan layanan tambahan pada rumah sakit-rumah sakit daerah dalam menampung membludaknya pasien Demam Berdarah? Sementara banyak sekali rumah sakit rujukan untuk Flu Burung dibentuk di daerah dengan kesiagaan yang cukup untuk menangani penularan Flu Burung. Seharusnya bukan hanya burung dan unggas yang disweeping, tapi nyamuk saat musim hujan juga harus dihajar, agar tidak membuat banyak orang masuk rumah sakit atau tewas.
Sayangnya pemerintah negeri ini masih menyukai hal-hal yang bersifat bombastis. Sehingga hal-hal yang kurang mendapat respon oleh media, apalagi media global, kurang mendapat empati dan sentuhan humanisme. Alhasil, penyakit yang kurang populer dinafikan untuk sementara. Sabar dulu saja bagi temen-temen yang daerahnya adalah endemi Demam Berdarah atau Malaria, kalau saat musim hujan tiba-tiba wabah penyakit itu menyapa lagi.
No comments:
Post a Comment