Wednesday, March 08, 2006

Secuil Kisah dari Jalan

Inner feelings were a neutral zone
Though she tried to condone
In a world she faced so alone
Her salvation came too late
And on that day she died
No one even cried
Forgot about the veil of deception
(Veil Of Deception, Death Angel, Act III, Geffen Record, 1991)
Sebenarnya agak basi kalau kita menceritakan segala tetek bengek kejadian yang berhubungan dengan betapa kerasnya perjuangan untuk bertahan hidup di jakarta. Cuma, selalu saja ada keinginan untuk sekedar mengenang atau menceritakan hal ini kepada beberapa temen, yang ternyata juga pada sedikit mengulum senyum sehabis mendengar penuturan gue. So, tidak ada salahnya bila kemudian hal-hal remeh temeh ini gue posting di sini.
Jakarta memang bisa membuat orang menjadi seperti apapun. Terkumpulanya semua hegemoni tentang kehidupan yang lebih baik dan berbagai kesulitan yang ada menjadikan Jakarta sebagai wadah yang dengan cepat sanggup merubah karaktyer penghuninya dalam berbagai bentuk, sesuai dengan kebutuhan untuk bisa bertahan atau menikmati hidup sekalipun.
Dalam mengarungi kota yang sangat besar ini gue menggantungkan diri gue pada metromini atau kopaja, jenis angkutan yang paling bisa menampung mereka yang pingin mengeluarkan uang sekecil mungkin guna bergerak liar di jakarta. Dalam keseharian bertemu dan bergerak bersama dengan sesama pamakai metromini dan kopaja lama-lama gue merasa menjadi bagian dari sebuah lingkungan masyarakat tersendiri, masyarakat penumopang metromini. Masyarakat yang satu ini memiliki ciri khas dan perilaku tersendiri, seperti yang membedakan diri mereka dengan masyarakat pengendara motor, atau masyarakat pengendara mobil pribadi. Masyarakat pengguna metromini, atau lebih umumnya pengguna anggkutan massal cenderung lebih cuek dalam kesehariannya, lebih mandiri dan lebih sigap terhadap segala situasi di jalanan.
Dan sebagai sebuah komunitas tersendiri, masyarakat pengguna angkutan massal ini menjadi salah satu target bagi banyak orang untuk mendapatkan lembaran ribua, mulai dari, penjual minuman dan rokok, penjual koran, pengamaen, pencopet dan pengemis. Dari interaksi pihak-pihak yang menggantungkan hidup mereka pada anggota masyarakat pengguna kendaraan umum ini gue seringkali menangkan kisah-kisah yang entah apakah ini ; lucu, satire, atau menyedihkan, yang pasti cukup bisa membuat gue untuk sering mengingatnya.
Dulu, gue sering melintasi jalan diponegoro dengan salah satu bus yang berasal dari blok M, nah di antara sekian puluh kali perjalanan gue, gue sempet mendapati seorang yang sebenarnya bisu tapi memaksakan diri ngamen dengan menyanyi. Tidak karuan suara yang keluar dari mulutnya, yang membuat gue mengetahui kalau dia mengamen adalah irama pada tepuk tangannya doang. Kontan gue ama temen gue gagal menahan diri untuk tidak ketawa. Tapi, demi menghargai usaha anak tersebut gue terpaksa menahan suara tertawa gue, hingga yang keluar hanya gerak tubuh gue dan temen gue yang terpingkal-pingkal. Parahnya, ternyata anak itu memiliki temperamen yang lumayan tinggi, merasa ada yang menertawakan atau bila ada yang tidak memberikannya duit dia akan ngomel dengan suara yang kurang jelas dan matanya memancarkan mwrah yang berlebihan.
Beberapa bulan yang lalu, gue bergerak dari tebet menuju pasar minggu, masih dengan metromini. Kali ini gue mendapati seorang pengamen yang, sumpah tidak akan sanggup mengundang iba orang untuk memberikanya sekeping seratus rupiah sekalipun. Orangnya gagah, sehat, hanya saja wajah dan ekspresinya menyebalkan, cara nyanyinya juga asal dan hanya mengandalkan tepuk tangan. Tapi orang ini tidak kurang akal untuk menyiasati minimnya pemasukan dari pemberian penumpang metromini, dengan belagak layaknya kondektur meminta pembayaran dia colek beberapa orang yang baru masuk metromini dan duduk agak di depan sambil nelagak menggoyangkan recehan uang di tanganya. Orang yang baru masuk yang tidak mengira dia pengamen dengan serta merta menyerahkan dua lembar ribuan ongkos metromini. setelah dapat sekian lembar ribuan, orang itu cepat kabur, sebelum kondektur menagih orang-orang yang sudah dia tipu. Dan benar saat kondektur menagih ongkos pada orang yang baru saja naik tersebut terjadilah cekcok dan berujung pada makian kondektur, pengamen bangsat!!!
Belum lama ini gue naik kopaja dari arah pasar minggu menuju tebet, tiba-tiba kopaja yang gue naikin disusul oleh kopaja dnegan jurusan yang sama. Kopaja yang menyusul ini menitipkan dua orang penumpang sambil kondekturnya berkata bahwa mereka mau putar balik saja di u turn depan daripada hanya bawa dua penumpang. Kopaja yang gue naiki, baik sopir dan kondekturnya tidak banyak cakap menerima saja limpahan dua penumpang ibu-ibu. Tapi, ternyata kopaja yang menitipkan dua penumopang tadi bukannya putar balik, dia hanya ingin mendapatkan peluang menyusul kopaja yang gue naiki dengan pura-pura ngasih penumpang dan berkata mau putar balik di u turn depan kopaja yang gue naiki. Hal itu diketahui setelah kopaja yang gue naiki tanpa diduga menyusul kopaja yang menitipkan penumpang tadi saat terjadi kemacetan dekat pasar tebet. Begitu menyadari bahwa diri mereka ditipu oleh sopir dan kondektur kopaja satunya, apalagi saat mereka bisa menyusul ternyata kopaja yang mengibulinya sekarang membawa penumpang lebih banyak, ngamuklah sopir dan kondektur kopaja yang gue naiki. Kondektur kopaja yang menitipkan penumpang tadi menanggapi kemarahan dari kondektur dan opir kopaja yang gue naiki dengan santai, malah kondekturnya bilang, "ya udah penumpang yang gue titipin tadi balikin sini kalau keberatan, lantas dia memanggil dua orang ibnu yang sudah dia titipkan tadi,"sini bu kembali naik sini!" Buntut dari peristiwa itu tidak sampai membuat mereka saling bertukar tenaga sampai berdarah-darah sih, tapi senggol menyenggol antar kopaja dan ocehan kotor cukup sebagai penanda panasnya suasana siang itu.
Yang pasti, cerita yang tidak terlupakan dari dalam metromini di jakarta sangatlah beragam, apa yang gue lihat, rasa dan dengar hanyalah sebutir debu, dari sekian ribu bahkan mungkin juta kisah lebih menyeramkan yang terjadi di tengah-tengah lingkungan masyarakat pemakai angkukan massal jalan raya jakarta.

No comments: