Wednesday, March 01, 2006

Sebuah Kota Bernama Bandung

Dalam tiga minggu terakhir gue mendadak dapat kesempatan nongol di Bandung dua kali dan menginap agak lama, setelah hampir setahun gue gak melihatnya.

Bandung, kota inilah pertama kali menjadi tempat pelarian gue selepas SMA. Dan di kota ini pula gue belajar akan banyak hal. Sehingga gue menempatkan kota ini menjadi sesuatu yang penting dalam perjalanan hidup gue (walau gue tidak serta merta menjadi pendukung Persib, hehe...).

Bandung, setiap musim dia bersolek berusaha memperindah dirinya, walau sejujurnya yang terjadi pada dirinya kemudian bukan sesuatu yang indah. Sebuah ironi dari perkembangan jaman dan peradapan. Cobalah anda mengenang Bandung 20 tahun yang lalu, dan bandingkan dengan bandung saat ini. Gue yakin tidak akan ada yang bilang bahwa kota ini menjadi semakin indah oleh karena perkembangan pembangunan dan peradapan. Orang kebanyakan akan berkomentar, macet, panas, semrawut dan komentar miring lainnya.

Dan gue, yang minggu-minggu kemarin dua kali berkunjung ke Bandung terpaksa harus mengelus dada begitu melihat di ciumbeuleuit, setiabudi atas dan dago (dekat pasar simpang) dibangun apartemen yang sangat jangkung (kalau gak salah lebih dari 15 lantai). Belum lagi di di cihampelas bawah dibangung novotel yang juga teramat jangkung. Terus terang sebagai orang awam gue terganggu dengan keberadaan gedung-gedung bertingakt tersebut. Pertama, daerah yang dibangung apartemen tersebut jelas-jelas daerah resapan air, kedua setiap kali gue nongkrong di bandung utara gue gak leluasa lagi menikmati view kota bandung dari atas. Apartemen-apartemen tersebut mengganggu mata gue saat menebarkan pandangan ke arah kota.

Seharusnya, bangunan bertingkat tinggi tidak boleh merambah Bandung Utara. Dan hal itu dulu pernah menjadi policy pemerintah daerah setempat. Sayangnya pada era otonomi sekarang semuanya mendadak berubah, dan perubahannya bukan menuju lebih baik. Beberapa orang komentar bahwa memang seharusnya bangunan bertingkat tinggi dibangunnya di Bandung Selatan, bukan Bandung Utara. Tapi, siapa yang mau beli apartemennya kalau dibangun di Bandung Selatan, tanya orang-orang itu juga.

Inilah repotnya kalau pemerintah daerah melihat tanah hanya dari sudut pandang ekonomis. Mereka menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai pilihan utama, seperti suharto saat memimpin negeri ini, sehingga melihat tanah hanya dari fungsi ekonominya semata, mengabaikan bahwa tanah juga memiliki fungsi sosial dan fungsi lingkungan. Karena secara ekonomis tanah pada suatu tempat memiliki nilai yang tinggi, maka tidak salah kalau keuntungan tersebut dimanfaatkan semaksimal mungkin, demikian mungkin yang terlintas pada pengelola daerah tersebut. Sehingga faktor sosial, estetika ruang, dan lingkungan dengan terpaksa diabaikan.


Jadi tidak heran bila kota yang dulunya menurut gue indah untuk dijadikan tempat tinggal, sekarang perlahan tapi pasti bergerak menuju pada perkembangan kota-kota besar lainya di Indonesia. Panas, pengap dan semrawut. Tidak ada lagi ciri khas yang membendakannya dnegan kota yang lain. Ciri-ciri tradisional, bla tidak segera diselamatkan, perlahan tapi pasti tergerus oleh arus globalisasi. Apalagi sekarang Bandung sama Jakarta sudah disatukan oleh jalan tol. Jarak tempuh yang dulunya bisa 3 - 5 jam pakai mobil, sekarang bisa ditempuh antara 1,5 - 2 jam. Semakin dekatnya jarak akan membuat akulturasi pada kedua tempat semakin cepat terjadi. Dan biasanya yang memegang hegemonilah yang akan memenangkan pergulatan budaya dan sebagainya. Dan bila tidak ada intervensi yang nyata, jangan heran kalau Bandung suatu saat akan menjadi seolah wilayah Jakarta yang lain yang kebetulan terletak di pusat kota propinsi Jawa barat.

No comments: