Malam, ketika lampu-lampu kota berpandar dalam kelelahan, kau berikan silhuetmu bagi kepakan sayap yang liar. Kata-kata berhamburan memberi ruang pada setiap helaan nafas...
Pagi, ketika hujan menghantam jalanan, aku merasa ada sebuah garis yang kau guratkan di sebelah mataku. Mendadak pandangku kabur. Jalanan tidak memberiku sedikitpun pertanda...
Tapi, pagi senantiasa memberiku ruang yang kelewat panjang untuk; mengela nafas, melonggarkan toleransi, menatap kepulan asap, memilah kelebat bayang yang lewat, serta untuk melemaskan urat kesabaran.
Tapi, pagi senantiasa memberiku ruang yang kelewat panjang untuk; mengela nafas, melonggarkan toleransi, menatap kepulan asap, memilah kelebat bayang yang lewat, serta untuk melemaskan urat kesabaran.
No comments:
Post a Comment