Friday, February 10, 2006
Rendezvous II
Saturday, February 04, 2006
Dream Theater
musik adalah salah satu pencapaian manusia yang sanggup merubah warna kehidupan menjadi sedemiakian berwarna. sebuah media yang sanggup mewadahi imagi yang tak bertepi, tapi juga bahasa verbal dalam warena yang lain. musik bisa menjadi kiasan yang akan tersimpan erat dalam ingatan mereka yang mendengarkan, pun bisa menjadi segumpal ungkapan yang paling sederhana dari anak manusia.
musik telah menjadi sesuatu yang penting bagi tingkah laku manusia. dalam perkembangannya lantas musik menjadi media yang paling mudah untuk mengekspresikan suasana hati siapapun. munculnya musik jazz adalah simbol dari suara hati kaum negro atas tindasan sistem yang menyengsarakan hidup mereka. musik rock adalah simbol dari gugatan dan perlawanan anak muda atas tatanan sosial yang ada. musik menjadi sedemikian reflektif atas apa saja yang dialami dan ingin dimunculkan oleh siapapun.
dan saking reflektifnya musik buat gue, yang sebenarnya sedikitkpun gak bisa memainkan alat musik pun mengerti partitur musik. kadang2 gue merasa tidak ada lagu atau satupun jenis karya musik yang sanggup membuat perasaan gue tenteram. suatu waktu, semua koleksi musik mendadak seolah menjadi sedemikian basi. kalau sedang dalam kondisi seperti itu, gue bisa membayangkan bagaimana rasanya kalau musik tidak berkembang dalam berbagai warna dan aliran. pasti hidup jadi sedemikian hambar dan menyebalkan. karena pada prinsipnya kebutuhan manusia terhadap apapun, pun terhadap musik, tidak mengenal batas. sehingga dalam suatu masa tertentu manusia seringkali berada dalam situasi dimana dirin mereka merasa tidak terpuaskan dalam hal apapun. kalau kemudian manusia pada suatu masa berhenti mencari pemenuhan keinginan dan merasa terpuaskan perasaanya akan kebutuhan yang selama ini dicari, hal itu kebanyakan dilakuakn sebagai bagian dari kompromi atas desakan kebutuhan yang belum bisa terpenuhi. tanpa kemampuan kompromi tersebut, niscaya rumah sakit jiwa akan selalu penuh.
dalam hal menyukai musik, mungkin gue tidak segila orang2 yang lain. namun, tetep saja keinginan gue untuk terus menikmati musik dalam berbagai bentuk dan berbagai aliran memaksa gue terus mencoba membiasakan telinga gue dengan sekian banyak aliran musik. dan karena masa remaja gue tumbuh di tahun 80-an dimana musik rock masih merajai pasar, maka selera musik gue terbentuk oleh senmtuhan musik yang cenderung agresive.
nah, musik2 yang cenderung agrsive ini ternyata lama-kelamaan sering membuat gue bosan, karena miskinnya improvisasi dalam karya2 musik agresive. musik2 tahun 80-an, yang pernah sedemikian gue sukai hanya sanggup membuat gejolak rasa gue muncul dan bergelora, tapi seringkali gagal membawa gue ke dalam nuansa yang kontemplatif. padahal, mendengarkan musik seringkali sebagai cara untuk menemukan suasana hati yang sedemikian rupa. dan tanpa alunan musik yang sanggup menerbangkan imagi, niscaya suasanan hati yang diharapkan sulit untuk muncul. beruntunglah tahun 60 akhir dan 70-an, banyak musisi yang mengasilkan karya2 besar yang bernuansa kontemplatif.
namun, banyaknya karya tahun 60-an akhir dan 70-an, suatu ketika tetap saja terasa tidak cukup. disamping, kebanyakan dari mereka sudah berhenti berkarya, karya2 baru mereka juga tidak sekontempaltif karya2 mereka yang dahulu. beruntung, ditengah kemiskinan warna musik agresive yang agak kontemplatif, dunia musik masih memiliki Dream Theater, salah satu icon aliran progressive metal. kelompok yang satu ini sanggup mengisi kekeringan musik yang bernuansa agresive dengan sebentuk karya yang penuh warna. warna improvisasi dalam karya2 mereka membuat gue yang gak ngerti bermain musik merasa mendapatkan ruang untuk melakukan kontemplasi dalam hentakan alunan musik mereka.sejauh ini karya2 dream theater sanggup menghibur dan memenuhi desakan kebutuhan gue akan musik yang bernuansa angresive tapi memiliki kekayaan warna dalam improvisasi yang dibalut dengan skill bermusik yang bagus. dan beruntungnya lagi, mereka cukup konstan membuat karya musik, ditengah gencarnya serbuan musik bernuansa easy listening serta segmen pasar yang berkembang saat ini yang cenderung didikte oleh pemilik modal tidak sanggup membendung keinginan orang untuk mendengarkan aroma musik yang berkualitas. dan dream theater sanggup memberikan jawaban atas kebutuhan tersebut. sebenarnya, banyak kelompok musik yang berkarya berdasarkan idealisme membangun komposisi musik yang tidak standar dengan balutan skill yang sangat memadai, mungkin karena warna musiknya sulit menembus kungkungan mainstream pasar, maka seolah mereka tenggelam.
Tuesday, January 31, 2006
Hipokrit
dan sesampainya kami di kantor perijinan kabupaten berkas banyak yang dibuang, karena memang tidak diperlukan.
Saturday, January 28, 2006
Absurd
" apa yg kau bawa hari ini?" tanyamu setiap waktu kita ketemu
" masih sama seperti yang kemarin" jawabku sama dari waktu ke waktu
" lantas apa yang kamu cari?"
" sama seperti waktu yang lalu."
" apakah kau menemukannya?"
" belum."
" mengapa kau masih juga kemari?"
" karena aku ingin kemari."
lantas waktu membawa pada jejak-jejak yang tidak menentu. mungkin hidup sendiri sudah absurd, hingga hari-hari yang berjalan selalu saja berada dalam paradigma yang tidak berujung pangkal. semua cerita, logika, dan penalaran kelewat sering berlalu tanpa bembenaran yang sanggup menentramkan rasa. sehingga yang dicari senantiasa berada di luar batas penalaran. haruskan semuanya kemudain diartikan dalam satu pemaknaan?
Huh...............
bias fatamorgana menyelimuti cakrawala
"akuku" berlari membawa sedikit ketimpangan logika
matahari tak cukup untuk bisa mengurai kebekuan imagi
gradasi warna bianglala menggelayut di kaki langit
matahati membatu pada sisi warna kelabu
jalanan berbatu menuntun langkah kaki
dan malam dalam paduan warna suram menjebak
seribu suara mengguncang gendang telinga
doa-doa apa saja membahana
kaki langit menampung segala keluh
Friday, December 16, 2005
Balada Temon
Namun cerita sukses menenggelamkan cerita duka. Banyak orang yang memiliki atau memaksakan diri menyediakan modal dobel memang kemudian bisa bernafas lega dengan hasil tanam yang lumayan serta harga jual melon yang tinggi.
Wednesday, December 14, 2005
Laki2 Tua dengan Bayang Masa Lalu
Empat puluh tahun yang lalu, demi menyelamatkan nyawa, dia rela diselundupkan melalui jalur kereta meninggalkan kampung halaman beserta seluruh sanak sodara menuju Surabaya. Semenjak itu hanya cerita dari kerabat yang mengunjunginya yang ia dengar tentang kampung halamannya.
Tiada keberanian ia miliki untuk menjejakan kakinya lagi ke kampung itu. Ada bayang kematian yang seolah mengelayut di cakrawala, katanya, setiap mengingat kampung halamannya. Bahkan saat sang ibunda tercinta meninggal, dia hanya bisa menyuruh anak dan istrinya pulang untuk menyampaikan duka cita yang teramat dalam, sambil menyimpan isak tangis di sudut kota yang hanya berjarak 5 km dari kampung halamannya.
Dan kini, setelah 40 tahun, setelah semua perubahan yang terjadi di negeri ini, dia gue ajak memberanikan diri mengunjungi atau hanya sekedar mendekati kampung itu untuk paling tidak membuka kenangan akan daerah kelahirannnya. Akan tetapi, ternyata kenangan yang kemudian muncul adalah bayang2 kematian yang seolah siap merenggutanya dari pijakan dimana dia berada.
Dia gelengkan kepala saat pedal gas gue injak dan setir gue arahkan ke pintu masuk kampung itu. Saat tidak gue pedulikan gelengannya dengan tetap mengarahkan mobil ke kampung itu, mendadak wajahnya pias pucat pasi. Bahasa tubuhnya tidak karuan.
" Aku yang akan bertanggungjawab kalau terjadi apa2," kataku.
" Tidak," katanya." Aku tidak sanggup mengingat bayang2 kematian yang menimpa sekian orang yang pernah begitu dekat denganku. Aku takut."
" Tidak akan ada yang membuatmu seperti apa yang dialami temen2mu, semua orang yang memberikan ancaman itu sudah pada dikubur oleh waktu," kataku lagi.
Dia menggeleng perlahan, nafasnya menderu tidak beraturan. Wajah itu semakin gelisah.
" Dulu, tahun 1970an, ada yang mencoba pulang, lantas seminggu kemudian dia hilang. Mayatnya ditemukan tersangkut digorong2 kota 3 hari kemudian," rengeknya dengan suara parau.
" Itu dulu, sekarang lain, tidak ada lagi ancaman itu. Semua sudah berubah, yang dulu begitu bengis suah pada mati. Dan aku yang akan menjamin keamanan itu," kataku memohon.
Monday, December 12, 2005
Problemo
Jadi Petani
Sebuah ironi, negeri yang penduduk mayotitasnya adalah petani, hingga orang bilangya kita negara agraris, tapi idup mayoritas penduduknya jauh dibawah garis kemiskinan. Kalau negara lain mah, yang bekerja pada mayoritas pilihan pekerjaan yang ada di negaranya biasanya minimal idupnya berkecukupan. Contoh yang paling baru adalah vietnam, negara yang 30 tahun yang lalu maish porak-poranda oleh perang sudara dan hajaran bom amerika, sekarang sudah sanggup menciptakan kehidupan yang lumayan lebih baik buat penduduknya yang bekerja sebagai petani.
Saat ini petani di kampung gue terpaksa membiarkan tanahnya terbengkalai hanya karena minimnya suplai air. Mereka mau menanam padi gak ada air, mau kembali menamam palawija, takut mendadak ujan, hingga bikin semua tanaman bacek, alias modar. Problem ini kan sebenarnya sederhana. Masalahnya adalah tidak adanya saluran irigasi yang memadai hingga suplai air sering tidak terkendali. Saat kemarau habis, saat hujan banjir. Sebagai negara yang rakyatnya idup dengan mengandalkan tanah untuk penghidupannya, harusnya kebijakan untuk pemanfaatan tanah agar bisa maksimal menjadi prioritas, bukanya sok membangun sentra industri yang akhirnya keuntungannya hanya dimakan oleh segelintir orang.
So, hanya menyediakan kestabilan aliran irigasi yang sanggup menjamin warga bisa bercocok tanam aman saja gak sanggup, apalagi harus dibebani untuk menciptakan mekamisme pasar yang kondusif, bibit yang sanggup bertahan hidup oleh karena hama dan cuaca, serta memberikan jaminan bahwa bertani menjadi pilihan yang bisa menjamin masa depan.
Mayoritas warga di negeri ini jadi petani bukan atas dasarnya pilihan, tapi keterpaksaan. Tidak ada anak indonesia yang bercita2 jadi petani. Pasti mereka bercita2 jadi orang kaya. Karena petani tidak menjamin seseorang menjadi kaya, maka pilihan itu sejak sekian puluh tahun yang lalu sudah di delet. Sehingga jadi petani adalah pelarian dari semua pilihan 6yang telah gagal diambil. Parahnya lagi, kebanyakan warga di kampung gue jadi petani karena sayang kalau tanahnya tidak digarap. Kebetulan mereka mendapat warisan tanah yang tidak begitu luas (karena dah dibagi turun temurun) kalau gak digarap sayang, kalau digarap hasilnya juga gak cukup untuk bekal hidup keluarga. Contoh memelihara padi untuk sawah 1000 M2 kalau hasilnya pas bagus petani bisa menjula gabah ke tengkulan Rp. 1,4 juta. Umur padi dari membajak sampai panen kira 4 bulan. Biaya produksi rata2 untuk sawah 1000M2 habis kira2 Rp. 350 ribu, lain2 Rp. 50 ribu, so keuntungan di dapat kira2 Rp. 1 juta setiap panen buat tanah luas 1000 M2. Rp. 1 juta di bagi empat bulan, berarti setiap sebulan mereka hanya dapat keuntungan Rp 250 ribu. Sementara kalau mereka bekerja jadi kuli bangunan dapat gaji Rp. 20 ribu setiap hari, 25 hari kerja dalam sebulan, berarti sebulan mereka bisa bawa pulang uang Rp. 500 ribu. Jadi mayoritas warga memilih bekerja sebagai kuli bangunan, sedang sebagai petani hanya sambilan saja.
Jadi, memang absurd negeri ini. Penduduk yang jumlahnya mayoritas dibiarkan hidup dalam kesulitan dan kesulitan, bahkan kadang2 udah sulita lahan penghiduoannya direnggut secara paksa pula, oleh banyak alasan.
Dahlah....negeri ini memang negeri beling...
Perjodohan
Pas kebetulan gue ke Jakarta gue kontak temen gue yang bawel ini, alhasil dia mau mengusahakan pertemuan tersebut. Tapi, gue gak tahanh cerewetnya.
” Lu harus dandan biar keliatan seganteng mungkin yah, jangan sampai
mengecewakan” cerocosnya.
” Alah, biarain aja dia ngeliat gue apa adanya, gue paling kagak mau sok2an bergaya tidak sesuai dengan kata hati. Lagian pan gue mang begini oranya.”
” Eh, lu mah musti bisa2nya kasih first impresion yang oke, perempuan mah suka dikibulin dengan penampilan yang meyakinkan.”
”Wah, gue gak suka ama perempuan yang begituan.”
” Ah, lu mah susah, jaman sekarang mau dapat perempuan, modelnya begini, mana bisa?”
” Its me honey, gue maunya orang ngeliat gue dari awal ya beginian, bukan belakangan baru sadar bahwa gue kumel dan segala macam, lantas orang baru
nyesel. Santai aja lagi....”
”Hih...lu mah mang susah......
”Gue datang ama temen gue ye?” kata gue.
”Jangan, ntar dia naksirnya ama temen lu lagi...”.
”Biarin aja, kalau gitu berarti mang dia gak layak buat gue....”.
” Aduh, ini anak susah amat....”.
Naluri Bisnis
Padahal bulan ini sudah memasuki bulan ke -12, tapi hujan yang lebat semenjak sekali terjadi saat lebaran belum datang juga. Hingga sawah2 disekitar kampung gue dibiarkan bero (tidak ditanamin/diolah). Solanya mereka bingung, mau nanam padi, air belum cukup, mau ditanam palawija takut mendadak hujan, mati semua nanti tanaman.
Dalam kondisi tanah sedang dibiarkan terlantar sehabis ditanamin palawija (kacang tanah, jagung dan kedelai) dan belum digenangi air begini biasanya banyak jangkrik hidup disana. Jangkrik dengan suara kerikan yang khas dan berisik menajad pembawa nuansa tersendiri di sekitar rumah gue. Waktu gue masih kecil bila musim begini tiba, gue selalu mencari dan mengumpulkan jangkrik dalam jumlah yang banyak, hingga rumah gue setiap malam berisiknya luar biasa.
Sekarang anak2 yang masih demen mencari dan memelihara jangkrik juga masih banyak, salah satunya bernama Alek, tapi gue biasa manggilnya Plonco. Anaknya dah berumur 12 tahun, tapi masih kelas 4 SD. Dia punya masalah dengan pendidikan formal, tapi dia sangat terampil membantu bapaknya kerja di swah dan memelihara sapi. ” Aku ini memang guoblok kalau disuruh sekolah mbah,” begitu dia bilang setiap gue ledekin akibat seringnya dia tidak naik kelas. Dia manggil gue mbah, hanya karena bapaknya manggil gue oom. Sebenarnya tidak ada hubungan darah diantara kami. Hirarki yang menempatkan masing2 orang harus memanggil dengan embel2 om, mas atau pakde, di kampung gue selain karena hubungan darah juga terjadi karena warisan kultur feodal. Untuk menghormati orang yang secara hirarki dituakan atau disegani maka warga harus memberikan embel2 di depan nama saat memanggil yang lain.
Well, kita lupakan kefeodalan jawa tersebut, pas gue sampai di Klaten, gue melihat Plonco punya jangkrik yang lumayan banyak. Maka demi ingatan akan masa lalu serta untuk keperluan menakuti tikus, maka gue beli jangkrik Plonco. (konon kabarnya tikus kabur setiap denger suara jangkrik yang berisik).
” Satunya seribu Mbah,” katanya lantang
” Oke, 5 lima ribu ya,” kata gue langsung membayarnya lunas
Alhasil malam itu rumahnya gue riuh rendah oleh suara jangkrik. Mungkin karena suara tikus ketilep suara jangkrik atau memang bener2 tikus takut jangkrik, mendadak berisiknya tikus di atap rumah gue mendadak menghilang.
Besoknya pagi2 bener, Plonco dah nongkrong di depan rumah gue dengan wajah tidak biasanya.
”Ngapain Co, mau jual jangkrik lagi?”
“ Wah, aku rugi besar kemarin, Mbah”
” Lho, emangnya kenapa?”
” Jangkrik itu kalau sampai Jakarta kan bisa dijual sepuluh ribu satunya, harusnya aku jualnya ke sampean lima ribu satunya kemarin”
Oalah, itu rupanya. Bodoh sekolah, tapi kalau urusan duit ada saja otaknya. Lagian hari gini, siapa yang mau dagangan jangkrik, ampe jakarta pula. Plonco...Plonco....
Thursday, December 08, 2005
Kembali Ke Jakarta
Monday, November 28, 2005
Cethe
Cethe adalah endapan kopi yang disedu. Biasanya endapan ini terkumpul di dasar gelas saat kita minum kopi, tentunya selain nescape yg pelit kasih endapan. Mungkin demi alasan untuk mendapatkan kenikmatan lebih, orang2 lantas mengoleskan endapan kopi, alias cethe. Kebiasaan ini rupanya juga sudah mendarah daging. Setiap saat gue jalan ke warung kopi, selalu gue orang menghisap rokok yang berwarna hitam/coklat oleh karena olesan cethe. Bahkan beberapa warung kopi dengan jelas memasang pengumuman menyediakan cethe yang enak. Konon, tidak sembarang kopi menghasilkan cethe yang memiliki aroma dan rasa yang nikmat untuk dioleskan pada sebatang rokok.
Friday, November 25, 2005
There Was A Life, Huh....
langit biru |
Friday, November 11, 2005
Kesalahan
Refleksi dan kontemplasi yang gue lakukan akhir2 inimemunculkan satu resume yang menyebutkan bahwa dari semua kejadian yang menimbulkan masalah pada idup gue kebanyakan adalah hasil dari kesalahan gue sendiri. Dan beberapa hari terakhir gue semakin tersadar bahwa kesalahan2 yang gue lakukan sudah benar2 membuat idup gue berada dalam masalah yang tidak sederhana. Segala hal yang bermasalah baik yang berhubungan dengan pekerjaan maupun orang lain kebanyakan akibat kesalahan gue sendiri. Parahnya, kayaknya kemarin2 gue dengan nyaman dan enak menikmati satu kesalahan ke kesalahan yang lain seolah menjadi sesuatu yang menyenangkan dan nyaman untuk dijalani.
Kesalahan yang paling sering gue lakukan adalah terlalu mudah mempercayai orang lain. Orang mungkin beranggapan gue orangnya baik jadi mudah mempercayai orang lain. Padahal sejatinya gue cepet percaya sama orang lain lebih banyak disebabkan karena gue tidak mau susah saja. Gue gak pernah mau direpotkan oleh hal2 atau tetek bengek untuk mengetahui apakah oranbg yang gue percaya memang mau atau sanggup. Akibatnya, banyak orang yang dengan paksa atau dengan sadar gue percaya kemudian memberikan masalah yang cukup berat bagi idup gue. Well, bisa saja gue berkelit bahwa banyak kesalahan yang terjadi akibat dari kelalaian oranbg lain yang gue percaya. Tapi, lantas muncul pertanyaan lanjutan, siapa yang menyuruh percaya sama orang orang lain tanpa cross check apakah orang itu sanggup, mampu dan mau? Nah kalau sudah begitu, gue harus mengakui gue sendirilah biang kerok segala masalah.
Sebenarnya kesadaran gue ini sudah muncul beberapa tahun yang lalu, tapi tetep saja gue akan mudah jatuh suka untuk memberikan sekian kepercayaan dan tanggungjawab sama orang lain dengan alasan lebih simple manakala ada orang mengatakan bahwa dirinya siap untuk gue percaya, tanpa peduli apakah memang orang tsb layak dipercaya. Bahkan untuk hal sulit, maupun hal yang privat sekalipun gue mudah merelakan untuk diberikan pertanggungjawaban ke orang lain, yang mungkin baru gue kenal. Atau oleh karena kesan baik, gue sering lupa untuk berpikir panjang sebelum melimpahkan semua tanggungjawab ke orang lain.
Akhirnya gue cuma bisa bilang, wellcome to the real world. Tampaknya lebaran kali ini permintaan maap terbesar gue harus gue ajukan ke diri sendiri. Karena ternyata gue sendirilah yang sering melakukan hal2 yang merepotkan diri sendiri.