Wednesday, March 15, 2006

Nasihat yg bisa jadi salah

Beberapa waktu yang lalu gue mendapat kabar bahwa salah satu temen gue waktu sama-sama di MPS UI, yang pernah gue khawatirkan akan di DO, ternyata benar-benar memutuskan ga menyelesaikan program di MPS karena banyak alasan (walau menurut gue yg utama adalah biaya).
Temen gue ini pegawai negeri di pemda DKI, dan dia masuk program MPS atas beasiwa pemerintah. Dia punya kewajiban harus menyelesaikan studinya, bila gagal, dia harus mengembalikan biaya studi keseluruhan dan biasanya karirnya juga akan mandeg. Lantas kebayang sama gue, betapa repotnya dia kalo harus mengembalikan seluruh biaya studi serta menghadapi kenyataan jenjang karirnya akan suram. Cuma temen gue ini juga agak aneh, dia selalu menutupi kondisi finansialnya dihadapan temen2 yang lain, jadi aja temen2 yg lain ga tau lantas gak peduli sama persoalan finansialnya.
Mendadak gue teringat kejadian beberapa tahun yg lalu saat kita baru masuk di MPS. Waktu itu gue ama temen gue ini ngumpul ama 2 orang temen perempuan yg lain di TIM, dalam obrolan tersebut keluarlah pengakuan dari temen gue ini bahwa dia sebenarnya punya istri da 2 anak di palu sana. Cuma, karena dia orang padang dan anak laki-laki pertama, sementara istrinya kristen, maka perkawinanya ampe hari itu masih dirahasiakan dari keluarganya. Jadi dai hanya berkunjung ke palu saat ada waktu libur.
Kontan gue ama satu temen perempuan gue menuduh dia ga tanggungjawab, apalagi dia dah berumur 30 tahun lebih. Masak setega itu membiarkan anak dan bininya realitasnya tidak nampak dimata keluarga pun dimata semua orang dimana saat ini dia beraktivitas. Dan semenjak obrolan itu gue dan temen perempuan gue ini, yg memang sering pulang semobil bersama, sering meledekinya ga gentle dsb.
Entah karena risi kita ledek, atau memang dia mau anak dan bininya datang ke jakarta dan idup barng dengannya, setahun kemudian dia bawa istri dan seorang anaknya menetap di jakarta dengan resiko mendapat amarah yg luar biasa terutama dari ibunya. dan semenjak itu dia mengalami banyak persoalan finansial, sampai akhirnya biaya kuliahnya juga tersedot untuk pos-pos yang lain. hal itu ditambah persoalan istrinya keguguran pula.
Mendadak gue ama temen perempuan gue yang suka ngledekin temen gue ini merasa bersalah oleh karena secara langsung maupun tidak langsung sudah mem-fait a compli temen gue ini agar membawa anak dan bininya ke jakarta, walau sebenarnya secara perekonomian dia belum siap.
Yang membuat kita semakin ga enak, temen gue ini tetep menutup diri terhadap usaha kita untuk mencoba mengerti persoalan dia pun semua usaha untuk sedikit meringankan bebannya. Dia seolah ingin menunjukan ke semua orang bahwa dia sanggup menghadapi persoalannya sendirian.
Hmmm....repotnya.

Wednesday, March 08, 2006

Secuil Kisah dari Jalan

Inner feelings were a neutral zone
Though she tried to condone
In a world she faced so alone
Her salvation came too late
And on that day she died
No one even cried
Forgot about the veil of deception
(Veil Of Deception, Death Angel, Act III, Geffen Record, 1991)
Sebenarnya agak basi kalau kita menceritakan segala tetek bengek kejadian yang berhubungan dengan betapa kerasnya perjuangan untuk bertahan hidup di jakarta. Cuma, selalu saja ada keinginan untuk sekedar mengenang atau menceritakan hal ini kepada beberapa temen, yang ternyata juga pada sedikit mengulum senyum sehabis mendengar penuturan gue. So, tidak ada salahnya bila kemudian hal-hal remeh temeh ini gue posting di sini.
Jakarta memang bisa membuat orang menjadi seperti apapun. Terkumpulanya semua hegemoni tentang kehidupan yang lebih baik dan berbagai kesulitan yang ada menjadikan Jakarta sebagai wadah yang dengan cepat sanggup merubah karaktyer penghuninya dalam berbagai bentuk, sesuai dengan kebutuhan untuk bisa bertahan atau menikmati hidup sekalipun.
Dalam mengarungi kota yang sangat besar ini gue menggantungkan diri gue pada metromini atau kopaja, jenis angkutan yang paling bisa menampung mereka yang pingin mengeluarkan uang sekecil mungkin guna bergerak liar di jakarta. Dalam keseharian bertemu dan bergerak bersama dengan sesama pamakai metromini dan kopaja lama-lama gue merasa menjadi bagian dari sebuah lingkungan masyarakat tersendiri, masyarakat penumopang metromini. Masyarakat yang satu ini memiliki ciri khas dan perilaku tersendiri, seperti yang membedakan diri mereka dengan masyarakat pengendara motor, atau masyarakat pengendara mobil pribadi. Masyarakat pengguna metromini, atau lebih umumnya pengguna anggkutan massal cenderung lebih cuek dalam kesehariannya, lebih mandiri dan lebih sigap terhadap segala situasi di jalanan.
Dan sebagai sebuah komunitas tersendiri, masyarakat pengguna angkutan massal ini menjadi salah satu target bagi banyak orang untuk mendapatkan lembaran ribua, mulai dari, penjual minuman dan rokok, penjual koran, pengamaen, pencopet dan pengemis. Dari interaksi pihak-pihak yang menggantungkan hidup mereka pada anggota masyarakat pengguna kendaraan umum ini gue seringkali menangkan kisah-kisah yang entah apakah ini ; lucu, satire, atau menyedihkan, yang pasti cukup bisa membuat gue untuk sering mengingatnya.
Dulu, gue sering melintasi jalan diponegoro dengan salah satu bus yang berasal dari blok M, nah di antara sekian puluh kali perjalanan gue, gue sempet mendapati seorang yang sebenarnya bisu tapi memaksakan diri ngamen dengan menyanyi. Tidak karuan suara yang keluar dari mulutnya, yang membuat gue mengetahui kalau dia mengamen adalah irama pada tepuk tangannya doang. Kontan gue ama temen gue gagal menahan diri untuk tidak ketawa. Tapi, demi menghargai usaha anak tersebut gue terpaksa menahan suara tertawa gue, hingga yang keluar hanya gerak tubuh gue dan temen gue yang terpingkal-pingkal. Parahnya, ternyata anak itu memiliki temperamen yang lumayan tinggi, merasa ada yang menertawakan atau bila ada yang tidak memberikannya duit dia akan ngomel dengan suara yang kurang jelas dan matanya memancarkan mwrah yang berlebihan.
Beberapa bulan yang lalu, gue bergerak dari tebet menuju pasar minggu, masih dengan metromini. Kali ini gue mendapati seorang pengamen yang, sumpah tidak akan sanggup mengundang iba orang untuk memberikanya sekeping seratus rupiah sekalipun. Orangnya gagah, sehat, hanya saja wajah dan ekspresinya menyebalkan, cara nyanyinya juga asal dan hanya mengandalkan tepuk tangan. Tapi orang ini tidak kurang akal untuk menyiasati minimnya pemasukan dari pemberian penumpang metromini, dengan belagak layaknya kondektur meminta pembayaran dia colek beberapa orang yang baru masuk metromini dan duduk agak di depan sambil nelagak menggoyangkan recehan uang di tanganya. Orang yang baru masuk yang tidak mengira dia pengamen dengan serta merta menyerahkan dua lembar ribuan ongkos metromini. setelah dapat sekian lembar ribuan, orang itu cepat kabur, sebelum kondektur menagih orang-orang yang sudah dia tipu. Dan benar saat kondektur menagih ongkos pada orang yang baru saja naik tersebut terjadilah cekcok dan berujung pada makian kondektur, pengamen bangsat!!!
Belum lama ini gue naik kopaja dari arah pasar minggu menuju tebet, tiba-tiba kopaja yang gue naikin disusul oleh kopaja dnegan jurusan yang sama. Kopaja yang menyusul ini menitipkan dua orang penumpang sambil kondekturnya berkata bahwa mereka mau putar balik saja di u turn depan daripada hanya bawa dua penumpang. Kopaja yang gue naiki, baik sopir dan kondekturnya tidak banyak cakap menerima saja limpahan dua penumpang ibu-ibu. Tapi, ternyata kopaja yang menitipkan dua penumopang tadi bukannya putar balik, dia hanya ingin mendapatkan peluang menyusul kopaja yang gue naiki dengan pura-pura ngasih penumpang dan berkata mau putar balik di u turn depan kopaja yang gue naiki. Hal itu diketahui setelah kopaja yang gue naiki tanpa diduga menyusul kopaja yang menitipkan penumpang tadi saat terjadi kemacetan dekat pasar tebet. Begitu menyadari bahwa diri mereka ditipu oleh sopir dan kondektur kopaja satunya, apalagi saat mereka bisa menyusul ternyata kopaja yang mengibulinya sekarang membawa penumpang lebih banyak, ngamuklah sopir dan kondektur kopaja yang gue naiki. Kondektur kopaja yang menitipkan penumpang tadi menanggapi kemarahan dari kondektur dan opir kopaja yang gue naiki dengan santai, malah kondekturnya bilang, "ya udah penumpang yang gue titipin tadi balikin sini kalau keberatan, lantas dia memanggil dua orang ibnu yang sudah dia titipkan tadi,"sini bu kembali naik sini!" Buntut dari peristiwa itu tidak sampai membuat mereka saling bertukar tenaga sampai berdarah-darah sih, tapi senggol menyenggol antar kopaja dan ocehan kotor cukup sebagai penanda panasnya suasana siang itu.
Yang pasti, cerita yang tidak terlupakan dari dalam metromini di jakarta sangatlah beragam, apa yang gue lihat, rasa dan dengar hanyalah sebutir debu, dari sekian ribu bahkan mungkin juta kisah lebih menyeramkan yang terjadi di tengah-tengah lingkungan masyarakat pemakai angkukan massal jalan raya jakarta.

Untitled

And so we end the chapter
And let the stage lights fade

I have seen you on the edge of dawn
Felt you here before you were born
Balanced your dreams upon the edge of thorns
But I don't think about you anymore

(Egde Of Thorns - Savatage, Album Edge Of Thorns, 1992)


Kadangkala dibutuhkan keberanian untuk benar-benar tidak peduli terhadap apapun dan siapapun. Karena kepedulian yang terseret oleh gerak laku kehidupan tidak jarang justru menghambat diri sendiri pun orang lain dalam lingkaran yang memusingkan dan seringkali menghasilkan tafsir yang kontra produktif.

Friday, March 03, 2006

Anybody Listening?

You and I long to live like the wind upon the water.
If we close our eyes,
we'll maybe realize there's more to life than what we have known
And I can't believe I've spent so long living lies I know were wrong inside
I've just begun to see the light.


Long ago there was a dream, had to make a choice or two
Leaving all I loved behind, for what nobody knew
Stepped out on the stage, a lifeunder lights and judging eyes
Now the applause has died and Ican dream again...

Is there anybody listening?
Is there anyone that sees what's going on?
Read between the lines, criticize the words they're selling
Think for yourself and feel the walls become sand beneath your feet

Feel the breeze?
Time's so near you can almost taste the freedom
There's a warm wind from the south
Hoist the sail and we'll be gone,
by morning this will all seem like a dream
And if you don't return to sing the song, maybe just as well
I've seen the news and there's not much I can do...alone

Is there anybody listening?
Is there anyone who smiles without a mask?
What's behind the words images they know will please us?
I'll take what's real
Bring up the lights

Is there anybody listening?
Is there anyone that sees what's going on?
Read between the lines, criticize the words they're selling
Think for yourself and feel the walls...become sand beneath your feet


(Anybody Listening?, Queensryche, Empire, EMI Record, 1991)

Thursday, March 02, 2006

Memprihatinkan


Banyak hal yang terjadi di negeri ini, bila itu berhubungan dengan perilaku lembaga dan pejabat publik, lebih sering yang memprihatinkan. Salah satu yang sangat mendasar adalah perilaku sekian pejabat publik dalam kaitanya dengan upaya pemberantasan korupsi (pemenuhan slogan pemberantasan korupsi atau biar dikira bener-bener memberantas korupsi kali ya...).

Awalnya sempet muncul harapan bahwa pemberantasan korupsi di negeri ini sudah mulai dijalankan, walau dengan langkah agak tertatih-tatih, dan bukan lagi hanya sekedar wacana dan jualan saat kampanye. Beberapa nama yang diduga kuat terlibat dalam penyelewengan keuangan negara satu persatu diajukan ke meja hijau untuk diproses secara hukum. Namun upaya yang awalnya seolah-olah membawa angin segar tersebut belakangan ternyata malam membawa bau busuk. Lembaga peradilan yang, walaupun dengan berat hati, diharapkan bisa menjadi lembaga untuk menjerat para koruptor, ternyata malah lembaga pencuci koruptor kelas kakap.

Pengadilan negeri jakarta selatan dengan tangkas telah memberikan penyucian terhadap beberapa koruptor kakap untuk lepas dari jerat pidana. Yang paling mengejutkan tentunya bebasnya tiga Dirut Bank Mandiri. Yah, tiga orang terdakwa koruptor yang merugikan duit negara mayan banyak, dengan santainya diberi kebebasan oleh PN Jaksel. Salah satu pertimbangan majelis hakim dalam putusannya adalah, bahwa ada perubahan visi pada pemerintah indonesia dalam pemberantasan korupsi. Disebutkan pemerintah mengatakan please come on baby atau weelcome to indonesia. Para koruptor akan diampuni asalkan berjanji akan membayar uang yang dikorupsi.

Mungkin sejenak kita bisa sedikit mundur pada kasus korupsi di KPU, ada beberapa tokoh yang mungkin pernah memberikan kontribusi bagi kehidupan banyak orang, terjerat kasus korupsi di KPU. Ada beberapa tersangka, yang notabene adalah guru besar sudah dijatuhi vonis hukuman penjara sekian tahun dan denda uang sekian ratus juta dan ganti rugi lebih dari satu milyar oleh pengadilan tindak pidana korupsi (tipikor). Putusan ini menambah deretan nama anggota KPU yang masuk bui oleh karena korupsi saat pemilu kemarin. Disini kita melihat betapa hebatnya lebaga peradilan kita dalam menangani tindak pidana korupsi terhadap anggota KPU, yang korupsinya sebenarnya tidak seberapa dibandingkan jumlah nominal yang dikorup dirut bank mandiri, atau para pejahat pengemplang BLBI.
Sayang memang. Dan menurut gue, yang terjadi diatas sebenarnya bukanlah penanganan terhadap tindak pidana korupsi melainkan adalah sebuah ambivalensi yang sungguh memprihatinkan dari pemegang kekuasaan politik pada sebuah negara dalam menangani kasus korupsi. Hukuman yang hanya diberikan kepada anggota KPU dengan mengabaikan tersangka koruptor yang lain, apalagi mengiming-imingi pengampunan bagi yang bersedia mengembalikan uang yang sudah dikorupsi adalah pilihan tindakan politis yang memprihatinkan. Jika penanganan tindak pidana korupsi dijalankan dengan pertimbangan hukum yang tidak berstandar ganda, harusnya bukan hanya anggota KPU yang masuk bui, tapi dirut bank mandiri, dan koruptor kakap lainnya juga masuk bui, bahkan untuk hukuman yang jauh lebih berat dan denda yang lebih banyak.

Mengapa hanya anggota KPU, yang sejujurnya lebih layak diberi sedikit kelonggaran hukuman, yang dijebloskan ke penjara? Sementara para koruptor yang udah jelas-jelas merugikan negara dalam hitungan nominal yang sangat besar malah dibebaskan dan yang lainnya diiming-imingi pengampunan bila berjanji mau mengembalikan uang yang sebelumnya dikorupsi? Mengapa pula harus ada iming-iming pembebasan dari dosa bila mereka mau mengembalikan uang yang dikorup? Apakah hal tersebut sebagai ungkapan rasa frustasi karena gagal membawa para koruptor yang dengan mudahnya pada melenggang kangkung ke luar negeri, atau sok mau bersikap bijak dengan mengajak penjahat-penjahat tersebut bekerja sama guna mengembalikan uang negara yang sempat mereka bawa pergi?

Kalau menurut persepsi gue, faktor yang utama yang mempengaruhi ungkapan pemerintah tersebut adalah karena mereka memang tidak pernah serius dalam melakukan upaya pemberantasan dan penangkapan terhadap tindak pidana korupsi. Jangankan membawa pulang mereka yang sudah kabur, menjebloskan mereka yang sudah ada ditangan saja tidak pernah bersungguh-sungguh. Kalau serius, mustinya segala aspek disiapkan untuk mengantisipasi keruwetan dalam penanganan kasus korupsi. Tindak pidana kerah putih senantiasa melibatkan banyak hal yang bermuara pada permainan tingkat tinggi. Melibatkan banyak uang, banyak orang pintar dan banyak orang punya kuasa. Karena secara politis tidak serius maka proses persidangan hanya akan mebawa mereka-mereka yang notabene ecek-ecek, atau yang secara politis memang harus dikorbankanlah yang kena jerat secara hukum. Selebihnya? Meereka bisa dengan santai haha hihi

Yah, terpaksa deh kita harus mengucapkan kata, berbahagialah para koruptor yang pernah dan masih dengan sengaja bermain di Indonesia. Karena mereka yang memang benar-benar berniat korupsi dengan melengkapi dirinya dengan benteng yang kokoh, baik itu dana paupun koneksi, akan dengan mudah melenggang kangkung lolos dari jeratan hukum. Sementara mereka yang korupsi karena kelalaiannya, atau karena coba-coba, berhati-hatilah. Indonesia bukanlah tempat yang pas bagi koruptor bagi yang masih coba-coba. Karena, buat yang coba-coba biasanya bekingnya tidak terlalu kuat, sehingga hakim tidak memiliki alasan untuk tidak menghukum mereka dengan berat...

Lengkaplah negeri ini sebagai potret buram bangsa yang kalah. Kalah oleh karena kebodohan sendiri. Dalam segala bidang kita terjungkal. Bulutangkis, olahraga yang konon paling kita banggakan ternyata kita gagal mengirim tim uber ke final grup dunia, sepak bola, kita didiskualifikasi pada ajang liga champion asia gara-gara pssi bego, sea games, kita dipecundangi vietnam, malaysia, thailand dan philipina. Apalagi yang bisa dibanggakan? Paling ya kebanggan sebagai negara tempat paling aman buat koruptor kelas kakap doang. Kapan kita bisa seperti itu (ups....)

Wednesday, March 01, 2006

Pagi

Malam, ketika lampu-lampu kota berpandar dalam kelelahan, kau berikan silhuetmu bagi kepakan sayap yang liar. Kata-kata berhamburan memberi ruang pada setiap helaan nafas...

Pagi, ketika hujan menghantam jalanan, aku merasa ada sebuah garis yang kau guratkan di sebelah mataku. Mendadak pandangku kabur. Jalanan tidak memberiku sedikitpun pertanda...

Tapi, pagi senantiasa memberiku ruang yang kelewat panjang untuk; mengela nafas, melonggarkan toleransi, menatap kepulan asap, memilah kelebat bayang yang lewat, serta untuk melemaskan urat kesabaran.



Sebuah Kota Bernama Bandung

Dalam tiga minggu terakhir gue mendadak dapat kesempatan nongol di Bandung dua kali dan menginap agak lama, setelah hampir setahun gue gak melihatnya.

Bandung, kota inilah pertama kali menjadi tempat pelarian gue selepas SMA. Dan di kota ini pula gue belajar akan banyak hal. Sehingga gue menempatkan kota ini menjadi sesuatu yang penting dalam perjalanan hidup gue (walau gue tidak serta merta menjadi pendukung Persib, hehe...).

Bandung, setiap musim dia bersolek berusaha memperindah dirinya, walau sejujurnya yang terjadi pada dirinya kemudian bukan sesuatu yang indah. Sebuah ironi dari perkembangan jaman dan peradapan. Cobalah anda mengenang Bandung 20 tahun yang lalu, dan bandingkan dengan bandung saat ini. Gue yakin tidak akan ada yang bilang bahwa kota ini menjadi semakin indah oleh karena perkembangan pembangunan dan peradapan. Orang kebanyakan akan berkomentar, macet, panas, semrawut dan komentar miring lainnya.

Dan gue, yang minggu-minggu kemarin dua kali berkunjung ke Bandung terpaksa harus mengelus dada begitu melihat di ciumbeuleuit, setiabudi atas dan dago (dekat pasar simpang) dibangun apartemen yang sangat jangkung (kalau gak salah lebih dari 15 lantai). Belum lagi di di cihampelas bawah dibangung novotel yang juga teramat jangkung. Terus terang sebagai orang awam gue terganggu dengan keberadaan gedung-gedung bertingakt tersebut. Pertama, daerah yang dibangung apartemen tersebut jelas-jelas daerah resapan air, kedua setiap kali gue nongkrong di bandung utara gue gak leluasa lagi menikmati view kota bandung dari atas. Apartemen-apartemen tersebut mengganggu mata gue saat menebarkan pandangan ke arah kota.

Seharusnya, bangunan bertingkat tinggi tidak boleh merambah Bandung Utara. Dan hal itu dulu pernah menjadi policy pemerintah daerah setempat. Sayangnya pada era otonomi sekarang semuanya mendadak berubah, dan perubahannya bukan menuju lebih baik. Beberapa orang komentar bahwa memang seharusnya bangunan bertingkat tinggi dibangunnya di Bandung Selatan, bukan Bandung Utara. Tapi, siapa yang mau beli apartemennya kalau dibangun di Bandung Selatan, tanya orang-orang itu juga.

Inilah repotnya kalau pemerintah daerah melihat tanah hanya dari sudut pandang ekonomis. Mereka menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai pilihan utama, seperti suharto saat memimpin negeri ini, sehingga melihat tanah hanya dari fungsi ekonominya semata, mengabaikan bahwa tanah juga memiliki fungsi sosial dan fungsi lingkungan. Karena secara ekonomis tanah pada suatu tempat memiliki nilai yang tinggi, maka tidak salah kalau keuntungan tersebut dimanfaatkan semaksimal mungkin, demikian mungkin yang terlintas pada pengelola daerah tersebut. Sehingga faktor sosial, estetika ruang, dan lingkungan dengan terpaksa diabaikan.


Jadi tidak heran bila kota yang dulunya menurut gue indah untuk dijadikan tempat tinggal, sekarang perlahan tapi pasti bergerak menuju pada perkembangan kota-kota besar lainya di Indonesia. Panas, pengap dan semrawut. Tidak ada lagi ciri khas yang membendakannya dnegan kota yang lain. Ciri-ciri tradisional, bla tidak segera diselamatkan, perlahan tapi pasti tergerus oleh arus globalisasi. Apalagi sekarang Bandung sama Jakarta sudah disatukan oleh jalan tol. Jarak tempuh yang dulunya bisa 3 - 5 jam pakai mobil, sekarang bisa ditempuh antara 1,5 - 2 jam. Semakin dekatnya jarak akan membuat akulturasi pada kedua tempat semakin cepat terjadi. Dan biasanya yang memegang hegemonilah yang akan memenangkan pergulatan budaya dan sebagainya. Dan bila tidak ada intervensi yang nyata, jangan heran kalau Bandung suatu saat akan menjadi seolah wilayah Jakarta yang lain yang kebetulan terletak di pusat kota propinsi Jawa barat.

Pilihan Policy Publik

Flu burung, penyakit yg satu ini belakangan teramat populer. Hampir semua media memberi porsi yang sangat banyak bagi keberadaan, serta sepak terjangnya dalam menjangkiti umat manusia. Oleh karena sedemikian gencarnya media memberi porsi pada keberadaanya, maka penyakit ini juga mendapat perhatian yang berlebih oleh pemerintah suatu negara, tidak terkecuali Indonesia.
Ada banyak penyakit mematikan dan penularanya terjadi sedemikian cepat di dunia ini, pun di Indonesia. Tapi, hanya ada sedikit penyakit yang sanggup menyita perhatian publik oleh karena keberadaan, serta penularanya. Dari yang sedikit itu yang sangat populer adalah AIDS, dan Flu Burung. Lantas apa kabarnya dengan penyakit; Kanker, Demam Berdarah, Malaria, dan penyakit menular yang berbahaya lainnya? Kabarnya yang jelas tidak sepopuler kedua saudaranya diatas.


Mengapa hal itu bisa terjadi? Ini pertanyaan menarik dan bisa menimbulkan komentar yang agak kontroversial. Kalau menurut gue, penyakit-penyakit tersebut kalah populer karena kurang sanggup membuat orang bereaksi berlebih atas keberadaan penyakit tersebut. Kanker sangat mematikan, bahkan dari fase terkena sampai pada kematian jauh lebih cepat dari AIDS, cara menyerangnya juga sulit diidentifikasi. Hanya saja karena awal terserangnya kanker yang sulit teridentifikasi dan kemungkinan tidak menular membuatnya tidak menjadi sensasi bagi banyak orang, makanya keberadaan dia tidak masuk dalam kategori news yang layak di ekspos.


Beda dengan AIDS, penyakit yang satu ini proses penularanya lumayan teridentifikasi. Konon kabarnya disebabkan oleh gaya hidup, serta perilaku seksual (hal yang paling banyak dibahas dan dilakukan orang), sehingga AIDS menjadi penyakit yang sedemikian menakutkan (mungkin karena proses penularanya sedemikian dekat dengan kehidupan manusia, walau kanker juga sangat dekat). Oleh karena dianggap sedemikian dekat dengan perilaku dalam kehidupan sehari-hari maka AIDS menjadi sedemikian mengundang perhatian publik.


Demikian pula Flu Burung. Penyakit ini konon penularanya melalui binatang yang selama ini hidup damai dengan manusia, bahkan banyak yang di pelihara. Bandingkan dengan Demam Berdarah atau Malaria, kedua penyakit ini menyebar melalui nyamuk, kendati hidupnya lebih dekat dengan manusia, tapi nyamuk bukan binatang yang keberadaannya dianggap oleh manusia. Atau eksistensi nyamuk dianggap tidak pernah berarti oleh manusia. Sehingga Demam Berdarah dianggap penyakit biasa yang datang setiap musim hujan, kebetulan saat hujan nyamuk lagi giat-giatnya berbiak. Walaupun sebenarnya penyakit ini juga sangat berbahaya dan sering menelan korban jiwa tidak sedikit.


Disamping itu demam berdarah dan malaria adalah penyakit pada daerah tropis. Negara-Negara Barat tidak akan mungkin terserang penyakit ini. Oleh karena penyakit tersebut bukan sesuatu yang bergerak dekat pada domain hidup orang bule, maka media internaional kurang memberikan respon yang cukup. Imbasnya media lokal dan pemerintah Indonesia juga lebih memilih memberi porsi yang berlebih pada Flu Burung yang jelas-jelas berpotensi mengancam keselamatan banyak penduduk dunia termasuk orang-orang bule di tanah mereka sendiri.


Padahal kalau mau jujur semua penyakit yang gue sebut diatas memeliki resiko yang hampir sama bagi keselamatan orang Indonesia. Bahkan Demam Berdarah dan malari penularanya sangat cepat. Tapi mengapa hanya Flu Burung yang kemudian mendapat porsi berlebih? Mengapa waktu wabah Demam Berdarah menyerang daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur pemerintah tidak melakukan penyemprotan massal dan menyediakan layanan tambahan pada rumah sakit-rumah sakit daerah dalam menampung membludaknya pasien Demam Berdarah? Sementara banyak sekali rumah sakit rujukan untuk Flu Burung dibentuk di daerah dengan kesiagaan yang cukup untuk menangani penularan Flu Burung. Seharusnya bukan hanya burung dan unggas yang disweeping, tapi nyamuk saat musim hujan juga harus dihajar, agar tidak membuat banyak orang masuk rumah sakit atau tewas.


Sayangnya pemerintah negeri ini masih menyukai hal-hal yang bersifat bombastis. Sehingga hal-hal yang kurang mendapat respon oleh media, apalagi media global, kurang mendapat empati dan sentuhan humanisme. Alhasil, penyakit yang kurang populer dinafikan untuk sementara. Sabar dulu saja bagi temen-temen yang daerahnya adalah endemi Demam Berdarah atau Malaria, kalau saat musim hujan tiba-tiba wabah penyakit itu menyapa lagi.

Tuesday, February 14, 2006

Rendezvous III

Sebuah awal yang sebenarnya kurang menyenangkan bagi sebuah upaya untuk menjalin relasi yang lebih baik. Sempat membuat gue memiliki persepsi negative tentang ketiadaan penghargaan yang pantas bagi seseorang yang dalam hitungan bulan pernah bertukar cerita, walau hanya menggunakan gelombang magnetis sebagai media.

Hampir saja semuanya gue buang menjadi serpihan cerita basi yang pasti tidak akan diingat lagi, seandainya saja tidak ada permintaan untuk sedikit memberi ruang dan waktu bagi sebuah proses.

Gue sangat mempercayai proses. Karena manusia berkembang dalam dinamikan alam pikiran, sehingga terkadang manusia membutuhkan waktu untuk sanggup memahami dan menciptakan sesuatu. Dan bagi gue, tidak ada yang salah dengan meredakan sedikit ego bagi sebuah proses yang mungkin saja akan membawa sebuah perubahan yang positip.

Monday, February 13, 2006

Burung Burung


Burung-burung bernyanyi riang
Tinggi di atas sana
Menyambut fajar akan datang
dengan penuh harapan

Burung-burung bernyanyi riang
Sangat riang gembira
Menyambut pagi kan menerang
Menerangi dunia
(Ira Maya Sopha, lupa judul lagu dan albumnya)

Beberapa waktu yang lalu gue menyempatkan diri mengunjungi salah satu sepupu di Jakarta. Sepupu gue yang satu ini keranjingan memelihara burung sebagai bagian dari hobbynya. Burung yang dia pelihara banyak ragamnya dan harganya menurut gue dah kelewat mahal.

Mahal dalam arti banyak hal, mahal dalam hitungan nominal, juga mahal bagi keseimbangan alam. Untuk dapat salah satu burung sepupu gue harus mengeluarkan uang yang lumayan banyak, serta orang lain harus membayar kehilangan satu burung yang sebenarnya bisa beranak pinak dan memberikan sumbangan bagi kelengkapan kehidupan. Dengan adanya satu burung yang dia pelihara maka berarti satu kesempatan burung untuk melanjutkan keturunan terputus. Bagaimana bila banyak burung yang dipelihara oleh banyak orang? Berarti sekian banyak proses wajar kehidupan dunia urung karena sudah diacak-acak.

Dahulu, di kampung halaman gue, kampung kecil pinggiran Klaten, burung dalam banyak ragam menjadi warna tersendiri bagi kehidupan kampung kami. Menurut gue hal itu memberikan nuansa tersendiri bagi suasana kampung kecil itu. Saat pagi tiba, atau saat senja turun, ada saja suara burung yang bikin suasana menjadi sedikit magis

Tapi hal itu terjadi dua puluh tahun yang lalu, saat gue masih menikmati menjadi anak kecil yang lepas tanpa beban hidup yang berat. Seiring bertambahnya waktu, burung-burung itu banyak yang tewas oleh ganasnya senapan angin orang2 kampung gue sendiri, pun ganasnya perdagangan burung. Perlahan tapi pasti suara burung menjadi barang langka saat gue datang ke kampung menjenguk mak gue. Suara burung hilang diganti suara stereo set tetangga gue yang gak mengenal waktu. Parahnya lagi, di saat suara burung sudah semakin sulit didengar, masih banyak anak-anak yang menenteng senapan angin mencari sisa-sisa makluk bersayap itu.

Semakin hari, semakin sulit menemukan burung di kampung gue. Jangan berkhayal akan mendengar kicau burung dalam macam ragam dari kampung gue, apalagi dari kota di sekitar kampung gue, kecuali berasal dari sangkar-sangkar yang tertenteng di depan rumah orang2 yang hobby memelihara burung.

Kultur Jawa menempatkan hobby memelihara burung sebagai salah satu pertanda bahwa hidup orang tersebut sudah mendekati kesempurnaan (kesuksesan). Memelihara burung dianggap sebagai salah satu pertanda bahwa seseorang sudah berhasil menempati kelas tertentu dalam masyarakat, selain memiliki keris (benda keramat/yang antik dan berharga mahal), perempuan (istri cantik), serta kuda (mungkin sekarang berubah jadi mobil).

Sebenarnya seiring perkembangan peradapan dan alam pikiran cara pandang kultural sebagian Orang Jawa terhadap embel2 pembentuk kelas sosial tersebut mulai bergeser. Semisal kuda dan keris dalam terminologi pemilikan benda2 perlambang keramat dan mahal sudah berganti menjadi mobil dan benda mahal seperti stereo set, atau sesuatu yang bernilai tinggi secara nominal. Namun perpspektif terhadap kepemilikan perempuan cantik (barang kali), serta burung sebagai klangenan (sesuatu yang bisa menghibur), tidak/belum mengalami perubahan. Akibatnya bisa dilihat, rumah2 megah orang2 berduit sering kali dihiasi oleh perempuan cantik dan kicau burung dari jenis yang mahal.

Sehingga tidak heran bila burung sampai detik ini masih menjadi komoditi yang mahal dan terus diburu oleh banyak orang. Hampir semua jenis burung, termasuk yang semasa gue masih kecil gak laku di jual, menjadi laku. Bisa ditebak bagaimana nasib hewan yang minim perlindungan hukum, bisa ditangkap bebas, serta berharga jual mahal ini?

Burung memang memiliki kelebihan, mulai dari corak warnanya, bentuk tubuh, serta kemampuannya dalam menyanyikan nada-nada dalam niotasi yang beragam. Mungkin burung adalah salah satu dari keberhasilan makluk hidup dalam berevolusi (selain manusia tentunya). Disamping dikarunia/berhasil mendapatkan kemampuan terbang, mereka juga memiliki bentuk tubuh, corak warna, tingkah polah, dan kemampuan bersuara yang luar biasa indah. Burung ibarat makluk yang secara alamiah mendapatkan keindahan dari semesta.
Tapi, celakalah burung yang menyimpan keindahan tersebut. Justru karena keagungan dan keindahan yang dia milikilah lantas membuat manusia memburunya untuk dijadikan simbol bagi kelas sosial mereka.

Wacana yang berkembang dalam kehidupan manusia menempatkan manusia sebagai mahluk yang seolah memiliki keinginan tanpa batas. Repotnya, keinginan itu memaksa manusia berjuang sekuat tenaga untuk memenuhinya. Tidak peduli sekalipun keinginan itu adalah petaka bagi makluk lain. Dan keinginan untuk menikmati keindahan yang seolah tanpa batas menjadikan manusia memburu setiap jengkal keindahan yang disediakan alam. Akibatnya, burung sebagai salah satu pemilik keindahan alamiah tanpa batas, menjadi salah satu mangsa bagi makluk manusia. Akibatnya penyusutan makluk bersayap tersebut seolah tidak bisa direm. Dan bukan hal yang tidak mungkin dalam hitungan beberapa tahun kedepan, pohon yang tumbuh di wilayah negeri ini akan semakin sedikit dihinggapi burung, bila tidak ada kemauan dan paksaan untuk mengentikan kegiatan mengobyekan burung sebagai komoditi bagi orang-orang kayak sepupu gue, maupun mereka yang masih membutuhkan burung untuk sekedar memenuhi ego akan kesenangan, maupun mereka yang membutuhkan burung untuk menunjukan kelas sosialnya.

Friday, February 10, 2006

Rendezvous II

ah, jadinya selalu sentimentil sehabis melihat yang satu ini. tapi, sebelum hari dimana sebuah ikatan akan memenggal kemungkinan pertemuan tanpa prasangka, perlu ada sedikit tatap muka untuk sekedar melepaskan sekian ucapan yang menenangkan jiwa masing2.
walau mungkin hanya sekedar ungkapan pelipur lara, tapi paling tidak bisa sedikit mengurangi beban yang mengimpit. yah, ibarat melempar sedikit batu berat yang terkadang masih menyembul di dalam rongga dada

Saturday, February 04, 2006

Dream Theater

musik? well, apa yang terjadi seandainya di dunia ini tidak ada hasil kesenian yang dinamakan musik? mungkin manusia akan terjebak dalam kondisi yang statis dan tidak memiliki abstraksi yang sedemikian liar, hingga perkembangan jaman jadi seperti sekarang.

musik adalah salah satu pencapaian manusia yang sanggup merubah warna kehidupan menjadi sedemiakian berwarna. sebuah media yang sanggup mewadahi imagi yang tak bertepi, tapi juga bahasa verbal dalam warena yang lain. musik bisa menjadi kiasan yang akan tersimpan erat dalam ingatan mereka yang mendengarkan, pun bisa menjadi segumpal ungkapan yang paling sederhana dari anak manusia.

musik telah menjadi sesuatu yang penting bagi tingkah laku manusia. dalam perkembangannya lantas musik menjadi media yang paling mudah untuk mengekspresikan suasana hati siapapun. munculnya musik jazz adalah simbol dari suara hati kaum negro atas tindasan sistem yang menyengsarakan hidup mereka. musik rock adalah simbol dari gugatan dan perlawanan anak muda atas tatanan sosial yang ada. musik menjadi sedemikian reflektif atas apa saja yang dialami dan ingin dimunculkan oleh siapapun.

dan saking reflektifnya musik buat gue, yang sebenarnya sedikitkpun gak bisa memainkan alat musik pun mengerti partitur musik. kadang2 gue merasa tidak ada lagu atau satupun jenis karya musik yang sanggup membuat perasaan gue tenteram. suatu waktu, semua koleksi musik mendadak seolah menjadi sedemikian basi. kalau sedang dalam kondisi seperti itu, gue bisa membayangkan bagaimana rasanya kalau musik tidak berkembang dalam berbagai warna dan aliran. pasti hidup jadi sedemikian hambar dan menyebalkan. karena pada prinsipnya kebutuhan manusia terhadap apapun, pun terhadap musik, tidak mengenal batas. sehingga dalam suatu masa tertentu manusia seringkali berada dalam situasi dimana dirin mereka merasa tidak terpuaskan dalam hal apapun. kalau kemudian manusia pada suatu masa berhenti mencari pemenuhan keinginan dan merasa terpuaskan perasaanya akan kebutuhan yang selama ini dicari, hal itu kebanyakan dilakuakn sebagai bagian dari kompromi atas desakan kebutuhan yang belum bisa terpenuhi. tanpa kemampuan kompromi tersebut, niscaya rumah sakit jiwa akan selalu penuh.

dalam hal menyukai musik, mungkin gue tidak segila orang2 yang lain. namun, tetep saja keinginan gue untuk terus menikmati musik dalam berbagai bentuk dan berbagai aliran memaksa gue terus mencoba membiasakan telinga gue dengan sekian banyak aliran musik. dan karena masa remaja gue tumbuh di tahun 80-an dimana musik rock masih merajai pasar, maka selera musik gue terbentuk oleh senmtuhan musik yang cenderung agresive.

nah, musik2 yang cenderung agrsive ini ternyata lama-kelamaan sering membuat gue bosan, karena miskinnya improvisasi dalam karya2 musik agresive. musik2 tahun 80-an, yang pernah sedemikian gue sukai hanya sanggup membuat gejolak rasa gue muncul dan bergelora, tapi seringkali gagal membawa gue ke dalam nuansa yang kontemplatif. padahal, mendengarkan musik seringkali sebagai cara untuk menemukan suasana hati yang sedemikian rupa. dan tanpa alunan musik yang sanggup menerbangkan imagi, niscaya suasanan hati yang diharapkan sulit untuk muncul. beruntunglah tahun 60 akhir dan 70-an, banyak musisi yang mengasilkan karya2 besar yang bernuansa kontemplatif.

namun, banyaknya karya tahun 60-an akhir dan 70-an, suatu ketika tetap saja terasa tidak cukup. disamping, kebanyakan dari mereka sudah berhenti berkarya, karya2 baru mereka juga tidak sekontempaltif karya2 mereka yang dahulu. beruntung, ditengah kemiskinan warna musik agresive yang agak kontemplatif, dunia musik masih memiliki Dream Theater, salah satu icon aliran progressive metal. kelompok yang satu ini sanggup mengisi kekeringan musik yang bernuansa agresive dengan sebentuk karya yang penuh warna. warna improvisasi dalam karya2 mereka membuat gue yang gak ngerti bermain musik merasa mendapatkan ruang untuk melakukan kontemplasi dalam hentakan alunan musik mereka.

sejauh ini karya2 dream theater sanggup menghibur dan memenuhi desakan kebutuhan gue akan musik yang bernuansa angresive tapi memiliki kekayaan warna dalam improvisasi yang dibalut dengan skill bermusik yang bagus. dan beruntungnya lagi, mereka cukup konstan membuat karya musik, ditengah gencarnya serbuan musik bernuansa easy listening serta segmen pasar yang berkembang saat ini yang cenderung didikte oleh pemilik modal tidak sanggup membendung keinginan orang untuk mendengarkan aroma musik yang berkualitas. dan dream theater sanggup memberikan jawaban atas kebutuhan tersebut. sebenarnya, banyak kelompok musik yang berkarya berdasarkan idealisme membangun komposisi musik yang tidak standar dengan balutan skill yang sangat memadai, mungkin karena warna musiknya sulit menembus kungkungan mainstream pasar, maka seolah mereka tenggelam.

Tuesday, January 31, 2006

Hipokrit

Beberapa hari ini kerjaan kami memaksa kami harus berkeliling ke beberapa lurah dan camat di Tulungagung untuk sekedar memenuhi tuntutan administrasi pengurusan IMB dan segala tetek bengengknya. seperti biasa, birokrasi seperti ini akan selalu makan biasa yang luar biasa besar. Gue yang suka kesel harus melakukan tawar menawar harga sebuah tanda tangan minta tolong temen2 gue yang berangkat.

Yang terkadang bikin jengkel dalam urusan seperti ini adalah cara orang2 itu memintanya duit terkadang mengada-ada. Sebagai contoh, pada salah satu kecamatan kami berhadapan dengan salah satu staff camat (kata temen gue, camatnya beberapa kali ga berani nemuin). nah, entah karena terlalu bernafsu cari duit, dia memaksa temen gue harus bolak-balik, katanya berkasnya gak lengkap. padahal dinas perijinan kabupaten dan ngasih tau bahwa berkas yang musti kami siapkan sudah cukup. gue tahu, orang2 ini cuma mau minta duit, makanya gue suruh temen gue nanya to the point aja berapa biaya yang dia minta. tapi, dasar anggota masyarakat yang sudah larut dalam budaya muna, orang itu ngomong bahwa semuanya bukan karena uang, tapi kelengkapan administrasi yang lebih penting daripada duit. dan karena malas berdebat dengan penguasa2 kecil yg selalu berkelit dalam bahasa otonomi yg menyebalkan itu gue minta temen gue memenuhi berkas yang diminta. nah setelah berkas lengkap, baru dia ngomong soal duit. dan sudah ngrepotin, dia minta dutinya kelewat banyak lagi.

daripada berkepanjangan urusannya gue temuin orang tersebut di kantor kecamatan bersamaan dengan saat pelaksanaan pembagian BLT tahap II. kami berdebat agak panjang. gue terangkan bahwa biaya administrasi untuk pemerintah kabupaten tidak semahal yang dia minta, tapi dia tetep bertahan dengan permintaannya. setelah kami ancam pengurusan perijinan akan kami serahkan semua administrasinya pada dinas perijinan kabupaten walau kami harus tambah biaya (cuma gak akan sebesar biaya kalau harus memenuhi tuntutan dia) dia mulai menurunkan permintaannya. jadilah kami tawar menawar kayak mau beli sayur seiket. sampai akhirnya ketemu harga, bayar dan ttd selesai. selesai dapat duit, dia ngoceh ngalor ngidul soal ketertiban birokrasi dan bagaimana meningkatkan layanan buat masyarakat. telinga gue lama2 panas, dan tanpa mengiraukan sungkan, gue pamit dengan alasan masih banyak yang harus dikerjakan.

dan sesampainya kami di kantor perijinan kabupaten berkas banyak yang dibuang, karena memang tidak diperlukan.

sebenarnya hampir semua birokrat di daerah minta duit setiap kali kita minta tanda tangan, entah untuk keperluan apa. tapi, biasanya mereka gak pakai acara membebani kami dengan tetek bengek berkas yang akhirnya juga kami buang. sebenarnya mulut2 birokrat di daerah, yang selama ini kami temui, sudah sangat terlatih saat harus negoisasi soal duit untuk sebuah tanda tangan. hanya sedikit yang bertingkah kayak staf camat tadi. hanya saja, satu hal yang sama dari para birokrat ini, bahwa mereka selalu merasa atau menempatkan dirinya sebagai bagian dari sistem yang siap membantu siapa saja demi lancarnya proses birokrasi di negeri ini, sehingga urusan apa saja katanya menjadi mudah. memang semuanya akan lancar kalau fulus yang tersedia ada. nah bila ternyata yang minta tanda tangan adalah orang2 yang duitnya cekak gimana? kayak orang2 daerah yang seringkali harus mengurus segala tetek bengek kebutuhannya, seperti persertifikatan tanah, administrasi untuk TKI, dll. padahal untuk pengurusan sertifikat tanah warga, yang masyoritas masih berupa petok c, maupun pengurusan administrasi TKI yang mau pergi ke luar negeri (tulungagung salah satu pengeksport TKI yang lumayan besar) mereka semua butuh ttd lurah dan camat. urusan TKI dan pengurusan sertifikat identik dengan duit. jangan heran kalau kemudian banyak TKI yg belum sempet berangkat ke luar negeri dah harus ninggalin utang bejibun, serta tanah2 di daerah gak diurus sertifikat kepemilikannya, orang dah ngrasa aman dengan petok c (walau secara hukum sebenarnya lemah), karena takut keilangan kelewat banyak duit.

Saturday, January 28, 2006

Absurd

dengan semangat absurditas yang tidak menentu aku cumbui kamu

" apa yg kau bawa hari ini?" tanyamu setiap waktu kita ketemu
" masih sama seperti yang kemarin" jawabku sama dari waktu ke waktu
" lantas apa yang kamu cari?"
" sama seperti waktu yang lalu."
" apakah kau menemukannya?"
" belum."
" mengapa kau masih juga kemari?"
" karena aku ingin kemari."

lantas waktu membawa pada jejak-jejak yang tidak menentu. mungkin hidup sendiri sudah absurd, hingga hari-hari yang berjalan selalu saja berada dalam paradigma yang tidak berujung pangkal. semua cerita, logika, dan penalaran kelewat sering berlalu tanpa bembenaran yang sanggup menentramkan rasa. sehingga yang dicari senantiasa berada di luar batas penalaran. haruskan semuanya kemudain diartikan dalam satu pemaknaan?

Huh...............

musim telah merengut sebagain usia
bias fatamorgana menyelimuti cakrawala
"akuku" berlari membawa sedikit ketimpangan logika
matahari tak cukup untuk bisa mengurai kebekuan imagi

gradasi warna bianglala menggelayut di kaki langit
matahati membatu pada sisi warna kelabu
jalanan berbatu menuntun langkah kaki
dan malam dalam paduan warna suram menjebak

seribu suara mengguncang gendang telinga
doa-doa apa saja membahana
kaki langit menampung segala keluh