Gue berkhayal bisa pergi ke kampong halaman sebelum akhir minggu menjelang lebaran. Makanya gue minta temen-temen gue untuk segera membereskan beberapa berkas dokumen legal, agar gue bisa segera menutup buku laporan minggu ini dan pergi mengunjungi Nyokap gue di Klaten.
Semuanya berjalan seperti yang gue harapkan. Berkas dengan cepat terkumpul. Namun, mendadak tanggal 26 Oktober dalam telepon perusahaan yang kasih kerjaan mengabarkan bahwa salah satu site yang menjadi tanggungjawab gue ada masalah di lapangan. Lantas gue kirim orang yang kebetulan berada tidak jauh dari lokasi yang bermasalah.
Awalnya gue kira masahnya sepele, kendati pagi gue sempat tarik urat dengan salah satu supervisi dari perusahaan pemberi kerjaan, yang menganggap perusahaan gue telah melakukan beberapa kesalahan tehnis. Ternyata masalahnya lumayan parah.
Lokasi pekerjaan yang bermasalah terletak di Mojokerto. Mojokerto memiliki kultur keagamaan yang lebih baik daripada daerah Jawa Tengah bagian selatan agak timur, pun daerah Jawa Timur selatan agar ke barat. Bulan ini adalah bulan Ramadhan, bulan suci bagi umat muslim. Nah lokasi pekerjaan yang pengawasannya berada pada wilayah pekerjaan gue berada dekat masjid. Kira-kira hanya berjarak 15 meter. Tim kontruksi yang menangani lokasi itu berasal dari perusahaan lain, mereka memiliki tanggungjawab harus menyelesaikan pekerjaan dalam hitungan waktu yang cepat. Makanya mereka harus lembur terus. Karena desakan jadwal, mereka suka tidak menghiraukan waktu, pun waktu yang berhubungan dengan ritual keagamaan warga sekitar lokasi. Saat magrib, mereka tetap bekerja dengan menimbulkan kegaduhan standar proyek, saat orang sholat Tarawih pun suasana tetap riuh rendah dari lokasi proyek yang sangat dekat dengan masjid.
Alhasil warga marah dan melakukan upaya penghentian dengan paksa pengerjaan kontruksi tersebut. Apalagi orang-orang yang bekerja di lokasi proyek sama sekali tidak melibatkan warga setempat.
Melihat latar belakang ngamuknya warga, masih untung orang kami yang gue kirim tidak disunat. Karena mayoritas tim kontruksi yang ada dilapngan pada tidak puasa (mungkin berat juga sih bila harus puasa ditengah tanggungjawab perkerjaan yang cukup berat). Tapi, biar kata tidak puasa, bisa saja orang melakukan ritual pemenuhan kebutuhan makan dan minum tidak harus diperlihatkan ke orang-orang yang menjalankan puasa dan mungkin belum setoleran yang lain. Sialnya warga tidak pernah bisa membedakan apakah kami dari tim kontruksi atau tim lain yang hanya bertanggunjawab pada dinamika sosialnya. Mereka beranggapan kami wakil dari perusahaan yang memberi kami kontrak kerjaan.
Parahnya lagi, tim kontruksi menghilang saat kami melakukan dengar perndapat dengan warga. Beruntung orang yang kami kirim masih bisa mendinginkan persoalan, sehingga warga jadi lebih jernih dalam berpikir, dan mau memahami posisi kami yang hanya bertanggungjawab pada persoalan diluar konstruksi.
Tapi, dampak dari persoalan itu, kami masih harus melakukan ritual pertemuan lagi dengan warga. Dan gue sebagai orang yang dianggap tua di tim, Sabtu tgl 29 Oktober, minggu terakhir sebelum lebaran, pas wiken, wajib datang pada pertemuan warga yang rencananya melibatkan para pengambil keputusan, dari tim kontruksi, perusahaan, serta tim gue. Alamat harus pasang urat tegang sampai akhir minggu, akhir banget dari minggu ini.…
2 comments:
kok jadi kacau gtu geng? ternyata gak bole sembarangan ya kerja dekat masjid. apalagi di bulan puasa, kayaknya muslim malah jadi sensitif dibandingin sabar. kacau..
huh...sekarang semakin kacau. gue akhirnya yang digantung ama XL....hg....
Post a Comment